Tag Archives: air bersih

PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM ISI ULANG OLEH DINKES KOTA PEKANBARU TAHUN 2008

Editor : Yance Warman, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2008.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
—-Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut, khususnya air untuk minum dan makan.1
—-Persoalannya saat ini kualitas air minum di kota-kota besar di Indonesia masih memprihatinkan. Kepadatan penduduk, tata ruang yang salah dan tingginya eksploitasi sumber daya air sangat berpengaruh pada kualitas air.2 Sebagai akibat penggunaan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan, di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 3,5 juta anak dibawah usia tiga tahun terserang penyakit saluran pencernaan dan diare dengan jumlah kematian 3 % atau sekitar 105.000 jiwa. Survey Demografi tahun 2003, 19 % atau 100.000 anak balita meninggal karena diare. Menurut World Health Organization (WHO), 94 % kasus diare yang diakibatkan oleh bakteri Escherichia Coli (E. Coli), dapat dicegah dengan meningkatkan akses air bersih, sanitasi, perilaku higienis, dan pengolahan air minum skala rumah tangga.3 Banyak dijumpai masyarakat mengalami keracunan air minum karena adanya senyawa kimia dalam air minum melebihi ambang batas konsentrasi yang diizinkan. Selain itu dapat menimbulkan penyakit dan gangguan fungsi organ tubuh seperti fungsi ginjal, hati, otak, gigi bahkan kelainan mental. Senyawa kimia ini bisa secara alamiah maupun akibat kegiatan manusia mencemari air minum. Beberapa zat kimia yang bersifat racun terhadap tubuh manusia adalah logam berat, pestisida, senyawa polutan hidrokarbon, zat-zat radio aktif alami atau buatan dan sebagainya.4
—-Menimbang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilaksanakan berbagai upaya kesehatan termasuk pengawasan kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu agar air minum yang dikonsumsi masyarakat tidak menimbulkan gangguan kesehatan maka perlu ditetapkan persyaratan kualitas air minum. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Mentri Kesehatan (Kepmenkes) No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Syarat air minum sesuai Permenkes itu harus bebas dari bahan-bahan anorganik dan organik yakni bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah berbahaya dan lain sebagainya. 5
—-Kecenderungan penggunaan air minum isi ulang oleh masyarakat di perkotaan semakin meningkat. Buruknya kondisi lingkungan membuat mereka khawatir untuk mengonsumsi air tanah, bahkan air ledeng yang disediakan pemerintah.  Namun sayangnya tidak semua air minum isi ulang (AMIU) dikelola dengan baik sesuai persyaratan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 .4
Penelitian menyebutkan, AMIU belum bebas dari bakteri coliform, yakni salah satu jenis coliform, yaitu bakteri Escherichia Coli (E.Coli) yang bisa menyebabkan diare berat.4 Pencucian tabung air minum di dalam ruang tertutup yang disinari ultraviolet juga sudah tidak lagi dilakukan. Tabung-tabung milik pelanggan tersebut hanya dicuci dengan menyemprotkan air tekanan tinggi kemudian disikat dengan bulu-bulu sikat yang berputar. Terkadang air minum tersebut masih berasa tanah meskipun sudah direbus, para pekerja tidak menerapkan prinsip sterilitas dalam pengemasan, dan banyaknya depot yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan air ke laboratorium secara berkala.4
—-Pengawasan kualitas AMIU menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan masing-masing daerah atau wilayah kota. Hasil pemeriksaan sampel AMIU tahun 2005 dan tahun 2006 yang dilakukan Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat menunjukkan, antara 40-60 persen dari sampel air yang diambil masih mengandung bakteri E.Coli. 4
—-Berdasarkan hasil evaluasi pemeriksaan sampel air di beberapa depot AMIU di kecamatan Rumbai Pesisir tahun 2008 didapatkan banyak parameter pemeriksaan sebagai persyaratan air minum sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tidak dilakukan (terlampir). Namun tetap dinyatakan telah memenuhi standar kesehatan sebagai air minum sehingga dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Pemeriksaan air baku hanya dilakukan satu kali pada saat awal depot AMIU didirikan, menurut Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 dilakukan berkala tiap tiga bulan. Pemeriksaan sampel air hanya dilakukan satu tahun sekali, yang seharusnya sebulan sekali karena ketidaktegasan pihak DKK Pekanbaru terhadap pengelola depot, padahal surat perjanjian awal sebelum izin usaha diberikan telah disepakati oleh pihak pengelola depot AMIU, berupa surat pernyataan bersedia memeriksakan air secara berkala sesuai dengan Kepmenkes N0 907/Menkes/SK/VII/2002 (terlampir). Adapun tenaga khusus untuk pengawasan secara langsung tidak ada, pengawasan ini biasanya dilimpahkan kepada pihak puskesmas, padahal tenaga yang tersedia minimal. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak maksimal. Hasil observasi pada beberapa depot, diketahui bahwa karyawan yang bekerja di depot-depot AMIU tidak pernah menggunakan alat pelindung diri seperti masker, handscoen, baju khusus, sehingga kemungkinan besar dapat menimbulkan kontaminasi dalam proses pengemasannya. Selain itu pemeriksaan karyawan secara berkala juga jarang dilakukan. Hal ini menunjukkan belum optimalnya pengawasan kualitas Air Minum Isi Ulang (AMIU) oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Pekanbaru.
Continue reading