PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP RINITIS ALERGI (RA)


Authors : Lilik Kurniawan, Yayan A. Israr. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2010.

PENDAHULUAN

Rhinitis alergi (RA) secara klinis didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung yang terjadi setelah paparan alergen melalui peradangan mukosa hidung diperantarai Imunoglobulin E. Penyakit ini merupakan alergi kronis yang paling umum dijumpai. Sebanyak 10% orang dewasa dan 40% anak-anak di Amerika Serikat (AS) terserang penyakit ini. Oleh sebab itu, rhinitis alergi merupakan satu dari sekian banyak penyakit yang ditangani para praktrisi sebagai perawatan primer.1

Selain itu, rhinitis alergi harus dipikirkan sebagai keadaan yang cukup serius karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita akibat beratnya gejala yang dialami dan juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Penderita akan mengalami keterbatasan dalam melakukan aktifitas sehari-hari, sering meninggalkan sekolah atau pekerjaannya, dan menghabiskan biaya yang besar bila menjadi kronis. Penyakit ini masih sering disepelekan, untuk itu perlu diberikan beberapa informasi agar penderita tidak terlalu meremehkan dan dapat mengetahui berbagai upaya untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.2

Gambar 1. Inflamasi pada rhinitis Alergi

Di Indonesia, angka kejadian rhinitis alergi yang pasti belum diketahui karena sampai saat ini belum pernah dilakukan penelitian multisenter. Prevalensi rhinitis alergi perenial di Jakarta besarnya sekitar 20 %, sedangkan menurut Sumarman dan Haryanto tahun 1999, di daerah padat penduduk kota Bandung menunjukkan 6,98 %, di mana prevalensi pada usia 12-39 tahun.3 Berdasarkan survei dari ISAAC (International Study of Asthma and Allergies in Childhood), pada siswa SMP umur 13-14 tahun di Semarang tahun 2001- 2002, prevalensi rinitis alergi sebesar 18%.4

Peran lingkungan pada kejadian rhinitis alergi adalah sangat penting, ditinjau dari faktor allergen yang mensensitisasi terjadinya penyakit ini.2 Alergen saluran napas di antaranya berupa tungau debu rumah, kecoak, polen, serpihan kulit hewan, atau spora jamur. Sebagai upaya mengontrol lingkungan sehingga tidak membahayakan, salah satunya adalah dengan sebisa mungkin menghindari tungau debu rumah seperti karpet, kapuk, bahan beludru pada sofa atau gordyn, ventilasi yang baik di rumah atau kamar, jauh dari orang yang sedang merokok, menghindari makanan yang diketahui sering menyebabkan alergi, seperti susu, telur, makanan laut, cokelat, serta menghindari kecoak dan serpihan kulit binatang peliharaan.5

Berbagai iritan di lingkungan kerja dapat merangsang membran mukosa nasal dan menimbulkan rinitis iritan non-alergi dengan gejala iritasi yang predominan. Adanya perbaikan waktu malam, akhir minggu, dan libur menunjang diagnosis rhinitis oleh iritan. Di samping itu, bau-bauan seperti wewangian, asap rokok, pewangi ruangan dan lainnya dapat pula menimbulkan eksaserbasi rhinitis. Bahan korosif dapat merusak sistem olfaktorius dan menimbulkan obstruksi dan post-nasal drip yang permanen.6

Baca Selengkapnya (Read more)…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s