PENATALAKSANAAN DEMAM TIFOID


Author : Tania Nugrah Utami, S. Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2010.

PENDAHULUAN


LATAR BELAKANG

Pada beberapa dekade terakhir demam tifoid sudah jarang terjadi di negara-negara industri, namun tetap menjadi masalah kesehatan yang serius di sebagian wilayah dunia, seperti bekas negara Uni Soviet, anak benua India, Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Afrika. Menurut WHO, diperkirakan terjadi 16 juta kasus per tahun dan 600 ribu diantaranya berakhir dengan kematian. Sekitar 70 % dari seluruh kasus kematian itu menimpa penderita demam tifoid di Asia.

Demam tifoid merupakan masalah global terutama di negara dengan higiene buruk. Etiologi utama di Indonesia adalah Salmonella enterika subspesies enterika serovar Typhi (S.Typhi) dan Salmonella enterika subspesies enterika serovar Paratyphi A (S. Paratyphi A). CDC Indonesia melaporkan prevalensi demam tifoid mencapai 358-810/100.000 populasi pada tahun 2007 dengan 64% penyakit ditemukan pada usia 3-19 tahun, dan angka mortalitas bervariasiantara 3,1 – 10,4 % pada pasien rawat inap1.

Dua dekade belakangan ini, dunia digemparkan dengan adanya laporan Multi Drug Resistant (MDR) strains S.Typhi. strain ini resisten dengan kloramfenikol, trimetropim-sulfametoksazol, dan ampicillin. Selain itu strain ressisten asam nalidixat juga menunjakan penurunan pengaruh ciprofloksasin yang menjadi endemik di India. United State, United Kingdom dan juga beberapa negara berkembang pada tahun 1997 menunjukan kedaruratan masalah globat akibat MDR1.

Morbiditas di seluruh dunia, setidaknya 17 juta kasus baru dan hingga 600.000 kematian dilaporkan tiap tahunnya. Di negara berkembang, diperkirakan sekitar 150 kasus/ juta populasi/ tahun di Amerika Latin. Hingga 1.000 kasus/ juta populasi/ tahun di beberapa negara Asia2.

Penyakit ini jarang dijumpai di Amerika Utara, yaitu sekitar 400 kasus dilaporkan tiap tahun di United State, 70% terjadi pada turis yang berkunjung ke negara endemis. Di United Kingdom, insiden dilaporkan hanya 1 dalam 100.000 populasi2.

Perlu penanganan yang tepat dan komprehensif agar dapat memberikan pelayanan yang tepat terhadap pasien. Tidak hanya dengan pemberian antibiotika, namun perlu juga asuhan keperawatan yang baik dan benar serta pengaturan diet yang tepat agar dapat mempercepat proses penyembuhan pasien dengan demam tifoid.

BATASAN MASALAH

Referat ini membahas definisi, etiologi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan demam tifoid

METODE PENULISAN

Penulisan ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu pada beberapa literatur.

TUNJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.3,4,5

ETIOLOGI

Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi (S. typhi), basil gram negatif, berflagel, dan tidak berspora. S. typhi memiliki 3 macam antigen yaitu antigen O (somatik berupa kompleks polisakarida), antigen H (flagel), dan antigen Vi. Dalam serum penderita demam tifoid akan terbentuk antibodi terhadap ketiga macam antigen tersebut.

PATOGENESIS

Infeksi S.typhi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus kemudian melalui pembuluh limfe masuk ke peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limpa. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah (bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak pada mukosa diatas plaque peyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin yang dieksresikan oleh basil S.typhi sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.1,4

<<<Baca selengkapnya (Read more…)>>>

11 responses to “PENATALAKSANAAN DEMAM TIFOID

  1. Ada, tapi memang tidak disertakan …

  2. referatnya tidak ada daftar pustaka nya?

  3. AH Singomenggolo

    tulisan OK,pertanyaan kalo sudah resisten dengan chlorampenicol, norfloksasin maupun jenis sulfa seperti bactrim antibiotic apa yg disdarankan ,Thanks

  4. bg yayan…kok ga kebaca semua…

    Ya2N^_^ :
    iya ci….barusan ada trouble ama ownernya WORDPRESS…blog nya di FREEZE….tapi sekarang kynya dah bisa di buka deh…

  5. bg, kok ga mau buka semua….gmn ne??hehehhe….

  6. Muh. Irwan

    blh juga…..

  7. JIakakkaa…..si mewakili bos….

    gmana kaloe qta ajak si eka jadi author bos??

  8. Muh. Irwan

    ”iya kk”<———- mewakili nia…

  9. Woi, Cha…..

    xixixiix….buat lah cha…itung2 review ilmu…..

    btw, kok comment echa ga masuk notification ya, langsung muncul aja dia…..

  10. hue… ada penulis baru… congrat’s nia…:)

  11. yan,, eka mau bikin referat lagi,,, kasi lah ide… utk buat judul apa.. hehehhe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s