I M U N I S A S I


Imunisasi merupakan upaya pencegahan terhadap penyakit tertentu pada diri seseorang dengan pemberian vaksin. Vaksin adalah antigen yang dapat bersifat aktif maupun inaktif yang berasal dari mikroorganisme ataupun racun yang dilemahkan. Pemberian vaksin bisa melalui injeksi ,misalnya vaksin BCG, DPT, DT, TT, Campak, dan Hepatitis B. Sedangkan yang diberikan secara oral yaitu vaksin polio. Pemberian vaksin secara dini dan rutin pada bayi dan balita diketahui mampu memunculkan kekebalan tubuh secara alamiah. Cara itu sangat efektif, mudah, dan murah untuk menangkal berbagai penyakit menular.

Berikut ini adalah jadwal imunisasi anak rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2004 (revisi September 2003) :

————

Imunisasi HEPATITIS B

Imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah lahir, mengingat sekitar 33% ibu melahirkan di Negara berkembang adalah pengidap HBsAg positif dengan perkiraan transmisi maternal 40%. Titer antibodi hepatitis B dikatakan protektif bila titer antibodi anti-HBsAg > 10 μg (mcg/mL). Bila titer berada di bawah ambang pencegahan atau negative maka diperlukan imunsasi ulangan.

Diberikan sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua, kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. Usia pemberian sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir. Dengan syarat, kondisi bayi stabil, tak ada gangguan pada paru-paru dan jantung. Dilanjutkan pada usia 1 bulan, dan usia 3-6 bulan. Khusus bayi yang lahir dari ibu pengidap VHB, selain imunisasi tsb dilakukan tambahan dengan imunoglobulin antihepatitis B dalam waktu sebelum usia 24 jam.

Lokasi penyuntikan pada anak di lengan dengan cara intramuskuler, sedangkan pada bayi di paha lewat anterolateral (antero= otot-otot bagian depan, lateral= otot bagian luar). Penyuntikan di bokong tidak dianjurkan karena bisa mengurangi efektivitas vaksin. Efek samping umumnya tak terjadi. Jikapun ada (jarang) berupa keluhan nyeri pada bekas suntikan, yang disusul demam ringan dan pembengkakan. Namun rekasi ini akan menghilang dalam waktu dua hari.

Tidak ada tanda klinis yang dapat dijadikan patokan tingkat keberhasilan. Namun dapat dilakukan pengukuran keberhasilan melalui pemeriksaan darah dengan mengecek kadar hepatitis B-nya setelah anak berusia setahun. Bila kadarnya di atas 1000, berarti daya tahanya 8 tahun; diatas 500, tahan 5 tahun; diatas 200 tahan 3 tahun. Tetapi kalau angkanya cuma 100, maka dalam setahun akan hilang. Sementara bila angkanya 0 berarti si bayi harus disuntik ulang 3 kali lagi.

Tingkat kekebalan cukup tinggi, antara 94-96%. Umumnya setelah 3 kali suntikan, lbih dari 95% bayi mengalami respons imun yang cukup. Tidak dapat diberikan pada anak yang sakit berat

—-

Imunisasi HEPATITIS  A

Penyebaran virus hepatitis A (VHA) sangat mudah. Penderita akan mengeluarkan virus ini saat meludah, bersin, atau batuk. Bila virus ini menempel di makanan, minuman, atau peralatan makan, kemudian dimakan atau digunakan oleh anak lain maka dia akan tertular. Namun, untuk memastikan apakah anak mengidap VHA atau tidak, harus dilakukan tes darah.

Masa inkubasi berlangsung 18-50 hari dengan rata-rata kurang lebih 28 hari. Setelah itu barulah muncul gejala seperti lesu, lelah, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, rasa tak enak di bagian kanan atas perut, demam, merasa dingin, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan batuk. Biasanya berlangsung 4-7 hari. Selanjutnya, urine mulai berwarna lebih gelap seperti teh. Biasanya kuning ini menghilang dalam 2 minggu.

Tak ada pengobatan khusus untuk hepatitis A, karena sesungguhnya penyakit ini dapat sembuh sendiri. Pengobatan dilakukan hanya untuk mengatasi gejala seperti demam dan mual. Selebihnya, anak harus banyak istirahat dan mengonsumsi makanan bergizi.

Meski tak separah hepatitis B, bukan berarti kita boleh menganggap remeh hepatitis A. Pasalnya, penyakit yang kerap disebut penyakit kuning ini, bisa menjadi berat bila terjadi komplikasi. Jadi, pencegahan tetap diperlukan, yakni dengan pemberian imunisasi hepatitis A. Disamping, menjaga lingkungan agar selalu bersih dan sehat, termasuk kebersihan makanan dan minuman.

Dapat diberikan saat anak berusia 2 tahun, sebanyak 2 kali dengan interval pemberian 6-12 bulan. Efek samping umumnya, tak menimbulkan reaksi. Namun, meski sangat jarang, dapat muncul rasa sakit pada bekas suntikan, gatal, dan merah, disertai demam ringan. Reaksi ini akan menghilang dalam waktu 2 hari. Tingkat Kekebalan Efektif mencekal hingga 90%.

—-

Imunisasi VARISELA

Memberikan kekebalan terhadap cacar air atau chicken pox, penyakit yang disebabkan virus varicella zooster. Termasuk penyakit akut dan menular, yang ditandai dengan vesikel (lesi/bintik berisi air) pada kulit maupun selaput lendir. Penularannya sangat mudah karena virusnya bisa menyebar lewat udara yang keluar saat penderita meludah, bersin, atau batuk. Namun yang paling potensial menularkan adalah kontak langsung dengan vesikel, yaitu ketika mulai muncul bintik dengan cairan yang jernih. Setelah bintik-bintik itu berubah jadi hitam, maka tidak menular lagi.

Awalnya, anak mengalami demam sekitar 3-7 hari tapi tidak tinggi. Barulah kemudian muncul bintik-bintik. Meski dapat sembuh sendiri, anak tetap perlu dibawa ke dokter. Selain untuk mencegah bintik-bintik tidak meluas ke seluruh tubuh, juga agar tak terjadi komplikasi yang bisa berakibat fatal. Sebaiknya penderita dipisahkan dari anggota keluarga lainnya untuk mencegah penularan. Minta anak untuk tidak menggaruk agar tak menimbulkan bekas luka. Atasi rasa gatalnya dengan bedak yang mengandung kalamin. Tingkatkan daya tahan tubuhnya dengan asupan makanan bergizi.

Diberikan sebanyak 1 kali yakni pada usia antara 10-12 tahun. Efek Samping Umumnya tak terjadi reaksi. Hanya sekitar 1% yang mengalami demam. Tingkat Kekebalan efektivitasnya bisa mencapai 97%. Dari penelitian terhadap 100 anak yang diimunisasi varisela, hanya 3 di antaranya yang tetap terkena cacar air, itu pun tergolong ringan.

——–

Imunisasi POLIO

Dibuat kesepakatan untuk melakukan eradikasi polio (Erapo) tahun 2000. Artinya, dunia bebas polio pada 2000. Program Erapo pertama yang dilakukan adalah melakukan imunisasi tinggi dan menyeluruh. Kemudian, diikuti Pekan Imunisasi Nasional yang dilakukan Depkes 1995, 1996, dan 1997. Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai rekomendasi WHO adalah sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu.

Kemudian, diulang usia 1,5 tahun, dan 15 tahun. Upaya ketiga adalah survailance accute flaccid paralysis atau penemuan penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastikan karena polio atau bukan.

—-

Imunisasi TIFOID

Ada 2 jenis vaksin tifoid yang bisa diberikan ke anak, yakni vaksin oral (Vivotif) dan vaksin suntikan (TyphimVi). Keduanya efektif mencekal demam tifoid alias penyakit tifus, yaitu infeksi akut yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, dan makanan-minuman yang tidak higienis. Dia masuk melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna.

Gejala khas terinfeksi bakteri tifus adalah suhu tubuh yang berangsur-angsur meningkat setiap hari, bisa sampai 400c. Basanya di pagi hari demam akan menurun tapi lalu meningkat di waktu sore/malam. Gejala lainnya adalah mencret, mual berat, muntah, lidah kotor, lemas, pusing, dan sakit perut, terkesan acuh tak acuh bahkan bengong, dan tidur pasif (tak banyak gerak).
Pada tingkat ringan atau disebut paratifus (gejala tifus), cukup dirawat di rumah. Anak harus banyak istirahat, banyak minum, mengonsumsi makanan bergizi, dan minum antibiotik yang diresepkan dokter. Tapi kalau berat, harus dirawat di rumah sakit. Penyakit ini, baik ringan maupun berat, harus diobati hingga tuntas untuk mencegah kekambuhan. Selain juga untuk menghindari terjadi komplikasi karena dapat berakibat fatal. Namun pencegahan tetaplah yang terbaik, terlebih Indonesia merupakan negara endemik penyakit tifus.

Vaksin suntikan diberikan satu kali kepada anak umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun. Pengulangan ini perlu mengingat serangan penyakit tifus bisa berulang, ditambah banyaknya lingkungan yang tidak higienis dan kurang terjaminnya makanan yang dikonsumsi anak. Sementara vaksin oral diberikan kepada anak umur 6 tahun atau lebih.

Umumnya berupa bengkak, nyeri, ruam kulit, dan kemerahan di tempat suntikan. Juga bisa muncul demam, nyeri kepala/pusing, nyeri sendi, nyeri otot, nausea (mual), dan nyeri perut (jarang dijumpai). Efek tersebut akan hilang dengan sendirinya.

—-

Imunisasi HIB

Sesuai namanya, imunisasi ini bermanfaat untuk mencekal kuman HiB (Haemophyllus influenzae type B). Kuman ini menyerang selaput otak sehingga terjadilah radang selaput otak yang disebut meningitis. Meningitis sangat berbahaya karena dapat merusak otak secara permanen sampai kepada kematian. Selain mengakibatkan radang selaput otak, kuman ini juga dapat menyebabkan radang paru dan radang epiglotis.

Mula-mula, kuman ini berada di dalam rongga hidung kemudian masuk ke darah dan menyebar sampai ke otak dengan masa inkubasi satu minggu. Gejala yang muncul bisa berupa demam tinggi lebih dari 38,50C, pusing, menggigil, kejang-kejang, dan kesadaran menurun. Bila sudah terjadi serangan harus diatasi dengan segera dan tepat oleh dokter yang memahami betul penyakit ini. Jika meningitis tak diobati dengan baik atau terlambat ditangani, akan menimbulkan gejala sisa, seperti lumpuh, tuli, bahkan kadang tak bisa melihat. Pada banyak anak perkembangannya juga terlambat, bisa retardasi mental atau cerebral palsy. Itulah mengapa, peran imunisasi HiB dalam mencekal penyakit ini sangatlah penting.

Diberikan sebanyak 4 kali, yaitu pada usia 2, 4, 6, dan 15 atau 16 bulan. Bila terlambat diberikan, semisal hingga usia 5 bulan belum diimunisasi, maka dapat diberikan di usia 6 bulan dan 15 atau 16 bulan. Efek Samping : Umumnya muncul demam ringan yang akan reda dengan sendirinya. Tingkat Kekebalan efektivitasnya mencapai 97-99%. Tidak dapat diberikan pada anak yang sakit atau kekebalannya sedang menurun untuk menghindari efek samping yang mungkin terjadi.

—-

Imunisasi DIFTERI

Penyakit difteri termasuk penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphtheria. Bakteri tersebut bersarang dan berkembang biak dalam tenggorokan dengan toksin yang sangat kuat. Penularannya bisa terjadi melalui udara atau cipratan sewaktu si penderita batuk atau bersin. Toksin dari bakteri itu dapat merusak saluran pernafasan dan masuk ke dalam aliran darah hingga bisa menyebabkan kelainan pada organ tubuh yang penting, misalnya jantung. Penyakit tersebut terutama menyerang anak-anak usia balita, padahal difteri bisa ditangkal dengan imunisasi DPT.

—-

Imunisasi PERTUSIS (Batuk Rejan)

Pertusis disebabkan oleh bakteri bordetella pertusis yang bersarang di saluran pernafasan. Penyakit yang mudah menular tersebut digolongkan sebagai penyakit berat pada bayi. Pada balita, jarang menyebabkan kematian. Namun adanya batuk yang disertai nafas yang tersengal serta muntah-muntah dapat menimbulkan gangguan gizi pada anak, akibatnya pertumbuhannya akan terganggu. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi DPT.

—-

Imunisasi TETANUS

Penyakit tetanus disebabkan oleh bakteri clostridium tetani yang terdapat dimana-mana, misalnya di tanah, kotoran hewan, debu dan lain sebagainya. Bakteri tersebut bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang tercemar oleh kotoran. Di dalam luka itu, bakteri akan berkembang biak dan membentuk toksin yang menyerang saraf. Gejala awal berupa ketegangan pada otot rahang dan leher yang dalam beberapa hari dapat berubah menjadi kejang otot disertai kesulitan menelan, gelisah dan mudah terangsang oleh suara, sentuhan, sinar dan sebagainya. Penyakit tetanus dapat dicegah dengan imunisasi DPT/DT pada usia bayi. Selain itu, wanita yang tengah hamil juga perlu diberikan imunisasi dengan vaksin TT (Tetanus Toksoid) untuk melindungi bayinya dari tetanus ketika lahir.

—-

—-

Referensi

  • Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI (Parent’s Guide)
  • DechaCare. Imunisasi Mencegah Penyakit Lebih Dini. 2007 .
  • Rumah Sakit Infeksi Prof. Sulianti Saroso. Mengenal Penyakit Polio. 2007.
  • Nakita. Panduan tumbuh kembang anak.

 

9 responses to “I M U N I S A S I

  1. Demam setelah pelaksanaan imunisasi memang sering terjadi pada anak, dan itu masih dalam batas normal, biasanya demam berlangsung 1-2 hari. Jika gejala lebih dari itu, Bapak sebaiknya konsultasi ke Dokter terdekat.

  2. pagi, saya mau bertanya : selasa kemarin anak saya diimunisasi vaksin tifoid, setelah disuntik lewat tangan kiri vaksin tifoid tersebut anak saya baik baik saja, tapi besok nya sampai hari ini mulai mengalami gejala panas naik turun (demam), perut rasa dak nyaman (nyeri perut), dan batuk pilek, yang mau saya tanyakan apakah ini merupakan hal yang biasa terjadi dari efek samping stetla di vaksin tifoid ? berapa lama efek samping akibat vaksin tifoid tsb sehingga anak saya kembali sehat 100%
    tolong dijawab dan dikirim lewat email saya : rudy_berhasil@yahoo.com
    thanks.

  3. Pagi Pak/Bu Masni,
    Kembali lagi ke tujuan dari imunisasi adalah menimbulkan kekebalan seseorang (si anak) terhadap suatu penyakit dengan merangsang terbentuknya antibodi dalam tubuh orang tersebut dengan memasukkan bagian kuman/virus yang telah dilemahkan/dimatikan dalam takaran/kadar tertentu. dan yang perlu diingat, persentase keberhasilan hal tersebut diatas berkisar antara 92-97% (tidak 100%) yang dipengaruhi banyak faktor, dan juga masing2 mempunyai jangka waktu tertentu.
    Jadi, memang bisa saja orang (anak) yang sudah diimunisasi terkena/terjangkit penyakit.

    Tapi bagaimana pun, upaya pencegahan jauh amat lebih baik dibanding upaya mengobati.

  4. Maksh ats info yg d brkan ttg imunisasi..saya mo nanya..saya prnh bc klu seseorang bs sj mndrita peny spt campak,polio pasca pmberian imunsasi tsb..mhn penjlsannya..trm ksh..

  5. Iya, saya setuju dengan Mas sub Zero…

  6. Alasan pemberian terapi oleh seorang dokter pasti didasarkan atas gejala dan pemeriksaan yang dilakukan dokter tersebut, dan pemikiran akan efek dari gejala dan hasil pemeriksaan yang di dapatkan untuk ke depannya..
    jadi saya rasa mbak puni tanyakan langsung ke dokter yang memberikan cefat dan novalgin alasan beliau….

  7. puni ardhana

    terimaksih atas pencerahanx…
    setelah kami mencari second opinion dkter lain,memang menggigil merupakan KIPI…jadi anak kami tidak tahan panas tubuh…
    yg dipertanyakan knp harus dikasih cefat dan novalgin??
    terimaksih atas segala pencerahan…..

  8. Malam bu Puni…
    Imuisasi bertujuan untuk memberi/ merangsang/ membantu tubuh bayi/anak agar membentuk pertahanan tubuh (antibodi), dengan demikian bayi/ anak terhindar dari berbagai penyakit yang membahayakan jiwanya. Namun, di lain pihak, pemberian imunisasi kadang menimbukan gejala/ efek samping (biasanya, gejala/ efek samping adalah sebenarnya pertanda baik, karena membuktikan vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh sedang bekerja).

    Kejadian yang di alami anak ibu mungkin termasuk dalam yang disebut “Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi”(KIPI), Gejala ini biasanay ringan (biasanya sudah dapat diprediksi sebelumnya).
    Pasca imunisasi DPT biasanya diikuti dengan demam yang dapat diantisipasi dengan obat penurun panas. Meski demikian, bisa juga reaksi induksi vaksin berakibat parah karena adanya reaksi simpang di dalam tubuh, yang mungkin menyebabkan masalah yang lebih berat seperti yang anak ibu alami.

    Semoga anak ibu segera membaik….

  9. puni ardhana

    mohon pencerahan…aira 6bln 2hr br saja imun DPT n Hib….wktu imun jam stgh 8 pg,tb2 sktr jam 4 aira menggigil smp bi2r bwrna biru,trnyata tdk cmn sekali kejadian berulang sktr jam stgh 8 mlm….
    yg saya tanyakan apakah gejala menggi2l memamng tjd stlh imun DPT??
    kmi diberi dktr program obat novalgin dan cefat 1/2 sendok takar..mhon pcrahan..mkasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s