OPTIMALISASI KEGIATAN PEMERIKSAAN JENTIK BERKALA DI WILAYAH KERJA PELABUHAN KAMPUNG DALAM – PEKANBARU


Author : Christopher A.P, S. Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

—–

PENDAHULUAN

Latar Belakang

—–Pelabuhan laut dan udara merupakan pintu gerbang lalu-lintas barang, orang dan alat transportasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Seiring dengan meningkatnya arus pariwisata, perdagangan, migrasi dan teknologi maka kemungkinan terjadinya penularan penyakit melalui alat transportasi semakin besar. Penularan penyakit dapat disebabkan oleh binatang maupun vektor pembawa penyakit yang terbawa oleh alat transportasi maupun oleh vektor yang telah ada di pelabuhan laut atau udara.1 Serangga yang termasuk vektor penyakit antara lain nyamuk, lalat, pinjal, kecoa, dan tungau.1

—–Salah satu tugas pokok dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dalam mencegah masuk-keluarnya penyakit dari atau ke luar negeri adalah melalui Pengendalian Resiko Lingkungan (PRL) di pelabuhan dan alat transportasi. Upaya ini dilakukan untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit serta meminimalisasi dampak resiko lingkungan terhadap masyarakat.Usaha-usaha pengendalian PRL di pelabuhan meliputi sanitasi lingkungan dan pemberantasan vektor dan binatang penular penyakit. Salah satu kegiatan dalam pemberantasan vektor yaitu pengendalian nyamuk yang meliputi survey jentik dan nyamuk dewasa, identifikasi jentik dan nyamuk dewasa, pemberantasan jentik dan nyamuk dewasa, diseminasi informasi hasil pengendalian.1

—–Daerah-daerah  wilayah KKP yang harus bebas dari infestasi A.aegypty yaitu:1

  1. Bandar udara: daerah di dalam lingkungan perimeter pelabuhan udara, yakni daerah pelabuhan di dalam suatu lingkungan dimana terdapat bangunan-bangunan untuk kegiatan penerbangan (gedung-gedung terminal dan transit, gudang) dan tempat parker pesawat terbang.
  2. Pelabuhan laut: tempat kapal berlabuh dan sekitarnya dimana terdapat bangunan-bangunan untuk kegiatan pelabuhan. Untuk mempertahankan agar daerah di dalam perimeter bebas A.aegypti maka perlu diadakan usaha-usaha pengendalian secara aktif di daerah perimeter dan daerah buffer (protective area) di sekitar perimeter sejauh sekurang-kurangnya 400 m. Di daerah tersebut indeks A.aegypti (House Index) harus dipertahankan hingga < 1%.

—–Penyakit-penyakit yang bersumber nyamuk (PBN) antara lain malaria, demam berdarah, chikungunya, yellow fever, filariasis limfatik (kaki gajah), dan Japanese encephalitis (radang otak Jepang). Dengan  mudahnya transportasi antara Afrika yang merupakan daerah endemik penyakit yellow fever dan Indonesia, maka potensi penularan penyakit yellow fever semakin besar. Saat ini, pakar taksonomi mengidentifikasi  sebanyak 3.453 sepesies nyamuk dan sebagian kecil spesies di antaranya berdampak terhadap kesehatan manusia. Akibat yang ditimbulkan nyamuk pun bermacam-macam, mulai dari gangguan kenyamanan sewaktu istirahat, dermatitis alergika akibat gigitan nyamuk, kejengkelan karena kebisingan suara terbangnya yang dekat telinga serta rasa nyeri akibat gigitannya, sampai ke dampak kesehatan nyata yaitu kejadian kesakitan dan kematian pada penderitanya karena terinfeksi oleh kuman penyakit yang ditularkannya.2

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan kejadian PBN antara lain mobilitas penduduk serta perilaku manusia yang kadang-kadang secara sengaja atau tidak sengaja menyebabkan kerusakan lingkungan. Hal ini disebabkan semakin berkurangnya kepedulian masyarakat terhadap masalah kesehatan lingkungan yang merupakan tempat berkembangbiaknya nyamuk, sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan jumlah kasus penyakitpenyakit yang ditularkan oleh nyamuk. 2

Angka kematian akibat penyakit nyamuk khususnya demam berdarah, menempati nomor urut keenam (53,98%) dari angka kematian penyakit lainnya setelah kematian akibat kecelakaan lalu lintas. Sedangkan penyakit malaria menduduki peringkat keempat dari penyakit menahun lainnya. 2

Berdasarkan data pengamatan penyakit menular yang dikumpulkan KKP Pekanbaru dari 6 puskesmas yang berdekatan dengan area Wilayah Kerja KKP baik Bandara SSK II maupun Pelabuhan Laut selama tahun 2007, didapatkan jumlah kasus DBD sebanyak 50 kasus, dengan jumlah kematian 0 kasus. Berdasarkan latar belakang di atas serta masih tingginya angka kasus DBD yang ditemukan maka penulis mepunyai keinginan untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk berkala di wilayah kerja KKP Pekanbaru.3

<<<Baca selengkapnya (Read more…)>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s