PERANAN FORENSIK ODONTOLOGI DALAM BENCANA MASAL


AUTHORS : RIRI JULIANTI, S.KED, LESTARI, S.KED, RAYMON PRATAMA, S.KED, RUTH TAMBUNAN, S.KED, NOLA PUSPITA AGUS,S.KED. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU.

—-

—-

PENDAHULUAN

—-

—-Dalam beberapa tahun terakhir, kita banyak dikejutkan oleh terjadinya bencana massal yang menyebabkan kematian banyak orang. Selain itu kasus kejahatan yang memakan banyak korban jiwa juga cenderung tidak berkurang dari waktu ke waktu. Pada kasus-kasus seperti ini tidak jarang kita jumpai korban jiwa yang tidak dikenal sehingga perlu diidentifikasi.

—-Forensik odontologi adalah salah satu metode penentuan identitas individu yang telah dikenal sejak era sebelum masehi. Kehandalan teknik identifikasi ini bukan saja disebabkan karena ketepatannya yang tinggi sehingga nyaris menyamai ketepatan teknik sidik jari, akan tetapi karena kenyataan bahwa gigi dan tulang adalah material biologis yang paling tahan terhadap perubahan lingkungan dan terlindung. Gigi merupakan sarana identifikasi yang dapat dipercaya apabila rekaman data dibuat secara baik dan benar. Beberapa alasan dapat dikemukakan mengapa gigi dapat dipakai sebagai sarana identifikasi adalah sebagai berikut, pertama karena gigi bagian terkeras dari tubuh manusia yang komposisi bahan organik dan airnya sedikit sekali dan sebagian besar terdiri atas bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak, terletak dalam rongga mulut yang terlindungi. Kedua, manusia memiliki 32 gigi dengan bentuk yang jelas dan masing-masing mempunyai lima permukaan.1,2

—-Berdasarkan pengalaman di lapangan, identifikasi korban meninggal massal melalui gigi-geligi mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas seseorang. Pada kasus Bom Bali I, dimana korban yang teridentifikasi berdasarkan gigi-geligi mencapai 56%, korban kecelakaan lalu lintas di Situbondo mencapai 60%, dan korban jatuhnya Pesawat Garuda di Jogyakarta mencapai 66,7%.1

—-Identifikasi korban pada kasus-kasus ini diperlukan karena status kematian korban memiliki dampak yang cukup besar pada berbagai aspek yang ditinggalkan. Identifikasi tersebut merupakan perwujudan HAM dan merupakan penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal.selain itu juga merupakan menentukan apakah seseorang tersebut secara hukum sudah meninggal atau masih hidup.1

—-Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara geografis terletak pada wilayah yang rawan terhadap bencana alam baik yang berupa tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, banjir dan lain-lain, yang dapat memakan banyak korban, dan salah satu cara mengidentifikasi korban adalah dengan metode forensik odontologi. Oleh karena itu forensik odontologi sangat penting dipahami peranannya dalam menangani korban bencana massal.3

—-

—-

TINJAUAN PUSTAKA

—-

Definisi Forensik Odontologi

—-Ilmu kedokteran gigi forensik memiliki nama lain yaitu forensic dentistry dan odontology forensic. Forensik odontologi adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan presentasi temuan gigi tersebut untuk kepentingan peradilan.4

—-Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sbb:1,4

  1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrim.

  2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.

  3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis.

  4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis, yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.

  5. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar.

  6. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400ºC.

  7. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan giginya masih utuh.

gambar-1Gambar 15

Pada gambar 1 menunjukkan bahwa gigi tetap dalam keadaan utuh pada suhu yang tinggi, walaupun tubuh telah rusak, tetapi gigi masih dapat diidentifikasi.
—-Batasan dari forensik odontologi terdiri dari:6,7,8

  1. Identifikasi dari mayat yang tidak dikenal melalui gigi, rahang dan kraniofasial.

  2. Penentuan umur dari gigi.

  3. Pemeriksaan jejas gigit (bite-mark).

  4. Penentuan ras dari gigi.

  5. Analisis dari trauma oro-fasial yang berhubungan dengan tindakan kekerasan.

  6. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli.

  7. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal.

—-

Sejarah Forensik Odontologi

—-Forensik odontologi telah ada sejak jaman prasejarah, akan tetapi baru mulai mendapatkan perhatian pada akhir abad 19 ketika banyak artikel tentang forensik odontologi ditulis dalam jurnal kedokteran gigi pada saat itu.8

—-Sejarah forensik odontologi sudah ada sejak sebelum masehi (SM) yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Roma Claudius pada tahun 49 SM, Agrippina ( yang kelak akan menjadi ibu Kaisar Nero) membuat rencana untuk mengamankan posisinya. Janda kaya Lollia Paulina merupakan saingannya dalam menarik perhatian Kaisar, maka ia membujuk Kaisar untuk mengusir wanita tersebut dari Roma. Akan tetapi hal itu rupanya masih dianggapnya kurang dan ia menginginkan kematian wanita tersebut. Tanpa setahu Kaisar, ia mengirim seorang serdadu untuk membunuh wanita tersebut. Sebagai bukti telah melaksanakan perintahnya, kepala Lollia dibawa dan ditunjukkan kepada Agrippina. Karena kepala tersebut telah rusak parah mukanya, maka Agrippina tidak dapat mengenalinya lagi dari bentuk mukanya. Untuk mengenalinya Agrippina menyingkap bibir mayat tersebut dan memeriksa giginya yang mempunyai ciri khas, yaitu gigi depan yang berwarna kehitaman. Adanya ciri tersebut pada gigi mayat membuat Agrippina yakin bahwa kepala tersebut adalah benar kepala Lollia.6,7,9

—-Pada tahun 1776, dalam suatu perang Bukker Hill terdapat korban Jenderal Yoseph Warren, oleh drg. Paul Revere dapat dibuktikan bahwa melalui gigi palsu yang dibuatnya yaitu berupa Bridge Work gigi depan dari taring kiri ke taring kanan yang ia buat sehingga drg. Paul Revere dapat dikatakan dokter gigi pertama yang menggunakan ilmu kedokteran gigi forensik dalam pembuktian.4,6

—-Pada tahun 1887 Godon dari Paris merekomendasikan penggunaan gigi untuk identifikasi orang yang hilang. Untuk itu ia menganjurkan agar para dokter gigi menyimpan data gigi para pasiennya, untuk berjaga-jaga kalau-kalau kelak data tersebut diperlukan sebagai data pembanding.9

—-Kasus identifikasi personal yang terkenal adalah kasus pembunuhan Dr. George Parkman, seorang dokter dari Aberdeen, oleh Professor JW Webster. Pada kasus ini korban dibunuh, lalu tubuhnya dipotong-potong lalu dibakar di perapian. Polisi mendapatkan satu blok gigi palsu dari porselin yang melekat pada potongan tulang. Dr. Nathan Cooley Keep, seorang dokter bedah mulut memberikan kesaksian bahwa gigi palsu itu adalah bagian dari gigi palsu buatannya pada tahun 1846 untuk Dr. Parkman yang rahang bawahnya amat protrusi.4,6,9

—-Pada tanggal 4 Mei 1897, sejumlah 126 orang Farisi dibakar sampai meninggal di Bazaar de la Charite. Para korban sulit diidentifikasi secara visual karena umumnya dalam keadaan terbakar luas dan termutilasi. Berdasarkan pemeriksaan Dr. Oscar Amoedo (dokter gigi Kuba yang berpraktek di Paris) dan dua orang dokter gigi Perancis, Dr. Davenport dan Dr. Braul untuk melakukan pemeriksaan gigi-geligi para korban kemudian ternyata mereka berhasil mengidentifikasi korban-korban ini.9

—-Pada tahun 1917 di dermaga Brooklyn ditemukan mayat yang kemudian dipastikan sebagai seorang wanita yang telah menghilang 8 bulan sebelumnya. Identifikasi pada kasus ini ditegakkan berdasarkan temuan bridge pada gigi geliginya.9

—-Sekitar tahun 1960 ketika program instruksional formal kedokteran gigi forensik pertama dibuat oleh Armed Force Institute of Pathology, sejak saat itu banyak kasus penerapan forensik odontologi dilaporkan dalam literatur sehingga forensik odontologi mulai banyak dikenal bukan saja di kalangan dokter gigi, tetapi juga di kalangan penegak hukum dan ahli-ahli forensik.9

—-

Definisi Bencana

—-Bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak dan tidak terencana atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola kehidupan normal atau kerusakan ekosistem sehingga diperlukan tindakan darurat dan menyelamatkan korban yaitu manusia beserta lingkungannya.3

—-Bencana yang terjadi secara akut atau mendadak dapat berupa rusaknya rumah serta bangunan, rusaknya saluran air, terputusnya aliran listrik, jalan raya, bencana akibat tindakan manusia, dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang terjadi secara perlahan-lahan atau slow onset disaster, misalnya perubahan kehidupan masyarakat akibat menurunnya kemampuan memperoleh kebutuhan pokok, atau akibat dari kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan dengan akibat asap atau (haze) yang menimbulkan masalah kesehatan.3

—-Bencana yang terjadi dapat menimbulkan korban massal yang perlu mendapatkan pertolongan kesehatan segera, dengan menggunakan sarana, fasilitas dan tenaga yang lebih dari yang tersedia sehari-hari.3

—-

Bencana Masssal di Indonesia

—-Adapun bencana massal di Indonesia dapat berupa:10

  1. Bom Bali I (2002)
  2. Peledakan hotel JW Marriott (2003)
  3. Tsunami Aceh dan Nias (2004)
  4. Bom di depan kedubes Australia (2004)
  5. Bom Bali II (2005)
  6. Kecelakaan pesawat adam air, lion air, kecelakaan kapal.
  7. Gempa bumi di Bantul Yogyakarta

—-

Peranan Forensik Odontologi Dalam menangani bencana Massal

—- Kematian yang tidak wajar atau tidak terduga, atau dalam kondisi bencana massal, kerusakan fisik yang direncanakan, dan keterlambatan dalam penemuan jenazah, bisa mengganggu identifikasi. Dalam kondisi inilah forensik odontologi diperlukan walaupun tubuh korban sudah tidak dikenali lagi.6

—-Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah kemanusiaan dan hukum. Masalah kemanusian menyangkut hak bagi yang meninggal, dan adanya kepentingan untuk menentukan pemakaman berdasarkan agama dan permintaan keluarga. Mengenai masalah hukum, seseorang yang tidak teridentifiksi karena hilang, tidak dipersoalkan lagi apabila telah mencapai 7 tahun atau lebih. Dengan demikian surat wasiat, asuransi, masalah pekerjaan dan hukum yang perlu diselesaikan, serta masalah status pernikahan menjadi tidak berlaku lagi. Sebelum sebab kematian ditemukan atau pemeriksa medis berhasil menentukan jenazah yang sulit diidentifikasi, harus diingat bahwa kegagalan menemukan rekaman gigi dapat mengakibatkan hambatan dalam identifikasi dan menghilangkan semua harapan keluarga, sehingga sangat diperlukan rekaman gigi setiap orang sebelum dia meninggal.6

—-

Identifikasi Forensik Odontologi

—-Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat membantu untuk membatasi korban yang sedang dicari atau untuk membenarkan/memperkuat identitas korban.6

—-

Penentuan Usia

—-Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun. Identifikasi melalui pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang lebih baik daripada pemeriksaan antropologi lainnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan gigi desidua diawali pada minggu ke 6 intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12 – 16 minggu dan berlanjut setelah bayi lahir. Trauma pada bayi dapat merangsang stress metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel gigi. Kelainan sel ini akan mengakibatkan garis tipis yang memisahkan enamel dan dentin di sebut sebagai neonatal line. Neonatal line ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan dentin telah dibentuk. Ketika ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis ini menunjukkan bahwa mayat sudah pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan enamel dan dentin ini umumnya secara kasar berdasarkan teori dapat digunakan dengan melihat ketebalan dari struktur di atas neonatal line. Pertumbuhan gigi permanen diikuti dengan penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar pertama dan dilanjutkan sampai akar dan gigi molar kedua yang menjadi lengkap pada usia 14 – 16 tahun. Ini bukan referensi standar yang dapat digunakan untuk menentukan umur, penentuan secara klinis dan radiografi juga dapat digunakan untuk penentuan perkembangan gigi.5


gambar-2

Gambar 26

Gambar 2 memperlihatkan gambaran panoramic X ray pada anak-anak (a) gambaran yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan perkembangan pada usia 9 tahun (pada usia 6 tahun terjadi erupsi dari akar gigi molar atau gigi 6 tapi belum tumbuh secara utuh). Dibandingkan dengan diagram yang diambil dari Schour dan Massler (b) menunjukkan pertumbuhan gigi pada anak usia 9 tahun.6

—-Penentuan usia antara 15 dan 22 tahun tergantung dari perkembangan gigi molar tiga yang pertumbuhannya bervariasi. Setelah melebihi usia 22 tahun, terjadi degenerasi dan perubahan pada gigi melalui terjadinya proses patologis yang lambat dan hal seperti ini dapat digunakan untuk aplikasi forensik.6

—-

Penentuan Jenis Kelamin

—-Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin. Gigi geligi menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya. Anderson mencatat bahwa pada 75% kasus, mesio distal pada wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm, sedangkan pada pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA dari gigi untuk membedakan jenis kelamin.6

—-

Penentuan Ras

—-Gambaran gigi untuk ras mongoloid adalah sebagai berikut:6

  1. Insisivus berbentuk sekop. Insisivus pada maksila menunjukkan nyata berbentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras kaukasoid dan 12 % ras negroid memperlihatkan adanya bentuk seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas.

  2. Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan oklusal premolar bawah pada 1-4% ras mongoloid.

  3. Akar distal tambahan pada molar 1 mandibula ditemukan pada 20% mongoloid.

  4. Lengkungan palatum berbentuk elips.

  5. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.

gambar-3Gambar 36

Gambaran gigi untuk Ras kaukasoid adalah sebagai berikut:6

  1. Cusp carabelli, yakni berupa tonjolan pada molar 1.

  2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari mandibula.

  3. Maloklusi pada gigi anterior.

  4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola.

  5. Dagu menonjol.

gambar-4Gambar 46

Gambaran gigi untuk ras negroid adalah sebagai berikut:6

  1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan.
  2. Sering terdapat open bite.
  3. Palatum berbentuk lebar.
  4. Protrusi bimaksila.

Di bawah ini merupakan contoh gambar open bite:


gambar-5Gambar 511



DAFTAR PUSTAKA

  1. Humas Universitas Airlangga. Peran Dokter Gigi dalam Identifikasi Korban Bencana. http://www.unair.ac.id. [diakses tanggal 29 Oktober 2008]
  2. International Criminal Police Organization. Disaster Victim Identification Guide. 1997.
  3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1653/Menkes/SK/XII/2005/ tentang Pedoman Penanganan Bencana Bidang Kesehatan. http://125.160.76.194/peraturan/Permenkes%202005/KMK%20PENANGGULANGAN%20BENCANA.doc [diakses tanggal 29 Oktober 2008]
  4. Lukman D. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Gigi Forensik. Jilid 1. CV Sagung Seto. Jakarta: 2006. 3.
  5. Dix J. Color Atlas Of. CRC Press. Boca Raton: 2000.
  6. Eckert WG. Forensic Odontology. In: Introduction to Forensic Sciences. 2nd edition. CRC Press. Boca Raton: 1997.
  7. Forensic Dentistry. http://en.wikipedia.org. [diakses tanggal 27 Oktober 2008]
  8. Forensic Odontology. http//:www.policensw.com. [diakses 27 Oktober 2008]
  9. Atmadja. Peranan Odontologi Forensik dalam Penyidikan. http://odontologiforensikinvestigasi.blogspot.com. [diakses tanggal 27 Oktober 2008]
  10. Gigi Dapat Mengidentifikasi Korban Bencana Massal. http://www.jurnalnet.com. [diakses tanggal 29 Oktober 2008]
  11. Open bite. http://www.kiferdentalspecialist.com/braces-malocclusionphp. [diakses tanggal 13 November 2008]

12 responses to “PERANAN FORENSIK ODONTOLOGI DALAM BENCANA MASAL

  1. Makasih bang… :)

  2. mantab gan
    makasih

  3. WAH TGKYU NI INFO NYA,…..

  4. …sgt membantuu

  5. ras dan keterhubungannya dengan lengkung rahang ada signifikansi. misal suku toraja sulawesi dan bugis pernah dilakukan penelitian skripsi di tahun 90-an di unhas

  6. Kalau identifikasi odontologi forensik dalam hal penentuan ras bisa g dengan menggunakan ukuran lebar lengkung rahang?terima kasih..

    Ya2N^_^ :
    Saya belum pernah membaca tentang hal tersebut…..apakah mbak pernah membacanya ? boleh saya minta referensinya?

  7. yayan, mau tanya sumber jurnal yg di pake utk buat artikel ini apa? thx

    Ya2n^_^ :
    mbak coba liat di daftar pustakanya ja……
    sama2, mabak..

  8. kalau menentukan umur bisa pakai cara apa lagi yah….
    terimakasih

    Ya2N^_^ :
    yang paling bagus tulang pelvic….

  9. Thank’s referensinya

    Ya2N^_^ :
    Sama2, mas joy…

  10. Thx.lumayan nih bwt tutorial bsk…

  11. makasi ka!bermanfaat bgt nih..hhee^^

    Ya2N ^_^ :
    Yo…sama2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s