PERANAN FORENSIK KLINIK TERHADAP KEKERASAN TERHADAP ANAK DAN PEREMPUAN


AUTHORS : Yayan Akhyar Israr, S.Ked, Yance Warman, S.Ked, Rizki Kurniati, S.Ked, Apriani Dewi, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau.

—-

—-

PENDAHULUAN

—-Interaksi antara bidang medis dan hukum pada saat ini tidak dapat diragukan lagi, yang mana semakin meluas dan berkembang dari waktu ke waktu. Di sinilah peranan forensik klinis yang merupakan suatu ruang lingkup keilmuan yang berintegrasi antara bidang medis dan bidang hukum diperlukan. Berbeda dengan forensik patologi, seorang dokter di forensik klinik lebih banyak menghabiskan waktunya menangani korban hidup.1,2 Kasus-kasus yang ada di forensik klinik meliputi perkosaan (rape), pencabulan (molestation), kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence), dan kekerasan pada anak (child abuse).3

—-Kekerasan pada anak (child abuse) merupakan perlakuan dari orang dewasa atau anak yang usianya lebih tua dengan menggunakan kekuasaan atau otoritasnya, terhadap anak yang tidak berdaya yang seharusnya berada di bawah tanggung-jawab dan atau pengasuhnya, yang dapat menimbulkan penderitaan, kesengsaraan, bahkan cacat. Penganiayaan bisa fisik, seksual maupun emosional.4 Pada tahun 1998, di Amerika Serikat lebih kurang 1100 anak meninggal dengan rata-rata 3 anak meninggal per  hari dari 2,8 juta kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan di agensi perlindungan (child protective agencies) anak pada tahun tersebut.5 Berdasarkan bentuk kekerasannya, terjadi 53,5% kasus penelantaran, 22,7% kasus kekerasan fisik, 11,5% kasus kekerasan seksual, 6% kasus kekerasan emosi, dan 6 % kasus penelantaran medis.6

—-Kekerasan pada wanita adalah segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap wanita, termasuk ancaman dari tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik yang terjadi dilingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.4 Seringkali kekerasan pada perempuan terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidakadilan jender.  Ketimpangan jender adalah perbedaan peran dan hak perempuan dan laki-laki di masyarakat yang menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki.  “Hak istimewa” yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan.7

—-Di Indonesia, tindak kekerasan terhadap perempuan sampai saat ini belum cukup mendapat perhatian dari institusi terkait, seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. Meski perempuan rentan dan rawan terhadap tindak kekerasan, upaya penyusunan peraturan perundang-undangan untuk melindungi perempuan sering terbentur pada keterbatasan data kuantitatif dan kualitatif pendukung.8

—-

—-

—-

TINJAUAN PUSTAKA

—-

Forensik Klinik

—-Forensik Klinik adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mencakup pemeriksaan forensik terhadap korban hidup dan investigasinya, kemudian aspek medikolegal, juga psikopatologinya, dengan kata lain forensik klinik merupakan area praktek medis yang mengintegrasikan antara peranan medis dan hukum.3

—-Secara internasional, organisasi forensik klinik dapat dibagi menjadi 3 resimen inti. Regimen pertama di UK dan Australia, kedokteran forensik klinik dijalankan oleh kelompok dokter yang bukan merupakan patologis forensik. Kebanyakan dari mereka adalah praktisi umum. Dahulu mereka dikenal sebagai police surgeon, namun sekarang mereka juga dikenal dengan nama forensic medical examiners (FME’s). Regimen kedua ada di bagian Eropa, dimana dokter di institute of legal medicine menggambil peranan tersebut, biasanya mereka juga merupakan ahli forensik patologi. Regimen ketiga adalah Amerika serikat, dimana tidak mudah untuk menentukan mana kelompok dokter yang mempberikan pelayanan forensik klinik. Yang paling dekat yang dapat ditemukan adalah dokter-dokter yang bekerja di ruangan emergensi. Pada akhir tahun 80-an, peranan ini secara berangsur-angsur diambil alih oleh perawat forensik.2

—-Secara teori forensik klinik berkaitan dengan berbagai begitu banyak aspek, namun umumnya forensik klinik terlibat dalam hal-hal sebagai berikut :9

  1. Pengobatan/perawatan terhadap seseorang yang memiliki keterbatasan
  2. Pemeriksaan medis dan penilaian korban dan pelaku tindakan kejahatan
  3. Pemeriksaan medis dan terhadap penilaian pengendara yang mengendarai kendaraan bawah pengaruh alkohol dan atau obat-obatan.
  4. Pemeriksaan medis dan penilaian terhadap pengendara mengenai deklarasi dari pelaku untuk mengakui kelayakaan untuk mengemudi
  5. Pemeriksaan medis dan penilaian korban  penganiayaan.
  6. Pemeriksaan medis dan penilaian kompensasi terhadap pekerja oleh pekerjaannya.
  7. Pemeriksaan  medis dan penilaian kesehatan mental untuk kepentingan hukum dan peradilan.

—-

Kekerasan Pada Anak (Child Abuse)

—-Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan atau mental.

—-Anak ialah individu yang belum mencapai usia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan seperti tertera dalam pasal 1 UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Kekerasan pada anak adalah tindakan yang di lakukan seseorang atau individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan atau mentalnya terganggu.

—-Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara fisik, seksual, maupun emosi. Pelaku kekerasan di sini karena bertindak sebagai caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di sekitar anak. Ibu dan bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, supir pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke sekolah, tukang kebun, dan seterusnya.10

6 responses to “PERANAN FORENSIK KLINIK TERHADAP KEKERASAN TERHADAP ANAK DAN PEREMPUAN

  1. lela andromeda

    mungkin aku telat baca tulisan ini.
    tulisannya bagus…mudah dipahami…
    aku skrg gi meneliti ttg kekerasan psikis yg dialami perempuan dibuktikan dgn visum et repertum psikiatrikum. punya data ttg itu g???

    makasi bgt ya…

    Ya2N^_^ :
    Blum punya tuh mbak….
    sama2…

  2. setau saya restitusi itu ganti rugi buat korban tindak pidana dari pelaku kejahatan,.sifatnya pidana
    nah kLo kompensasi ganti ruginya dari negara dan sifatnya keperdataan..

    cuman di Indonesia gak ngerti deh yg berlaku mana??mungkin mas tau??

  3. dengan kata lain peraturan itu kaya bedak ya…
    ditempeL tp abis tu dihapus dg gampangny pk aer…

    hehehehe….

    mksh mas.,ak lg bLjr msLh hkm soalny…

    Ya2N^_^ :
    weih..weih…
    Mungkin mas jauh lebih tau dibanding saya….

    oiya tau bnyk gk mas ttg msLh restitusi sm kompensasi bagi korban??

  4. banyak kasus terjadi keluarga korban itu menolak klo si korban divisum buat kpntngn penyidikan…

    trus gmn tuh??..pdhL penting kan??

    thx b4…

    Ya2N^_^ :
    Itulah permasalahan pelik yang ada di Indonesia qta ini, padahal peraturan yang mengatur tentang itu sudah jelas…tapi tidak semudah itu bila sudah berurusan dengan moral di Indonesia ini.

  5. mo nanya….

    visum itu bs jd alat bukti dipersidangan gak sih??
    ato cuman jd penambah keyakinan hakim aja??

    Ya2N^_^ :
    Visum dibuat atas permintaan penyidik yang digunakan untuk kepentingan peradilan <— bukan untuk keyakinan hakim, meskipun secara tidak langsung dengan adanya visum akan menambah keyakinan hakim atas suatu perkara.

  6. menurut aku bagus dan lengkap lo.slam kenal

    Ya2N^_^ :
    Salam kenal jg, Mbak….
    terimakasih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s