PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM ISI ULANG OLEH DINKES KOTA PEKANBARU TAHUN 2008


Editor : Yance Warman, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2008.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
—-Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut, khususnya air untuk minum dan makan.1
—-Persoalannya saat ini kualitas air minum di kota-kota besar di Indonesia masih memprihatinkan. Kepadatan penduduk, tata ruang yang salah dan tingginya eksploitasi sumber daya air sangat berpengaruh pada kualitas air.2 Sebagai akibat penggunaan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan, di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 3,5 juta anak dibawah usia tiga tahun terserang penyakit saluran pencernaan dan diare dengan jumlah kematian 3 % atau sekitar 105.000 jiwa. Survey Demografi tahun 2003, 19 % atau 100.000 anak balita meninggal karena diare. Menurut World Health Organization (WHO), 94 % kasus diare yang diakibatkan oleh bakteri Escherichia Coli (E. Coli), dapat dicegah dengan meningkatkan akses air bersih, sanitasi, perilaku higienis, dan pengolahan air minum skala rumah tangga.3 Banyak dijumpai masyarakat mengalami keracunan air minum karena adanya senyawa kimia dalam air minum melebihi ambang batas konsentrasi yang diizinkan. Selain itu dapat menimbulkan penyakit dan gangguan fungsi organ tubuh seperti fungsi ginjal, hati, otak, gigi bahkan kelainan mental. Senyawa kimia ini bisa secara alamiah maupun akibat kegiatan manusia mencemari air minum. Beberapa zat kimia yang bersifat racun terhadap tubuh manusia adalah logam berat, pestisida, senyawa polutan hidrokarbon, zat-zat radio aktif alami atau buatan dan sebagainya.4
—-Menimbang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, perlu dilaksanakan berbagai upaya kesehatan termasuk pengawasan kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat. Selain itu agar air minum yang dikonsumsi masyarakat tidak menimbulkan gangguan kesehatan maka perlu ditetapkan persyaratan kualitas air minum. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Mentri Kesehatan (Kepmenkes) No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. Syarat air minum sesuai Permenkes itu harus bebas dari bahan-bahan anorganik dan organik yakni bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah berbahaya dan lain sebagainya. 5
—-Kecenderungan penggunaan air minum isi ulang oleh masyarakat di perkotaan semakin meningkat. Buruknya kondisi lingkungan membuat mereka khawatir untuk mengonsumsi air tanah, bahkan air ledeng yang disediakan pemerintah.  Namun sayangnya tidak semua air minum isi ulang (AMIU) dikelola dengan baik sesuai persyaratan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 .4
Penelitian menyebutkan, AMIU belum bebas dari bakteri coliform, yakni salah satu jenis coliform, yaitu bakteri Escherichia Coli (E.Coli) yang bisa menyebabkan diare berat.4 Pencucian tabung air minum di dalam ruang tertutup yang disinari ultraviolet juga sudah tidak lagi dilakukan. Tabung-tabung milik pelanggan tersebut hanya dicuci dengan menyemprotkan air tekanan tinggi kemudian disikat dengan bulu-bulu sikat yang berputar. Terkadang air minum tersebut masih berasa tanah meskipun sudah direbus, para pekerja tidak menerapkan prinsip sterilitas dalam pengemasan, dan banyaknya depot yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan air ke laboratorium secara berkala.4
—-Pengawasan kualitas AMIU menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan masing-masing daerah atau wilayah kota. Hasil pemeriksaan sampel AMIU tahun 2005 dan tahun 2006 yang dilakukan Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat menunjukkan, antara 40-60 persen dari sampel air yang diambil masih mengandung bakteri E.Coli. 4
—-Berdasarkan hasil evaluasi pemeriksaan sampel air di beberapa depot AMIU di kecamatan Rumbai Pesisir tahun 2008 didapatkan banyak parameter pemeriksaan sebagai persyaratan air minum sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tidak dilakukan (terlampir). Namun tetap dinyatakan telah memenuhi standar kesehatan sebagai air minum sehingga dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Pemeriksaan air baku hanya dilakukan satu kali pada saat awal depot AMIU didirikan, menurut Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 dilakukan berkala tiap tiga bulan. Pemeriksaan sampel air hanya dilakukan satu tahun sekali, yang seharusnya sebulan sekali karena ketidaktegasan pihak DKK Pekanbaru terhadap pengelola depot, padahal surat perjanjian awal sebelum izin usaha diberikan telah disepakati oleh pihak pengelola depot AMIU, berupa surat pernyataan bersedia memeriksakan air secara berkala sesuai dengan Kepmenkes N0 907/Menkes/SK/VII/2002 (terlampir). Adapun tenaga khusus untuk pengawasan secara langsung tidak ada, pengawasan ini biasanya dilimpahkan kepada pihak puskesmas, padahal tenaga yang tersedia minimal. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak maksimal. Hasil observasi pada beberapa depot, diketahui bahwa karyawan yang bekerja di depot-depot AMIU tidak pernah menggunakan alat pelindung diri seperti masker, handscoen, baju khusus, sehingga kemungkinan besar dapat menimbulkan kontaminasi dalam proses pengemasannya. Selain itu pemeriksaan karyawan secara berkala juga jarang dilakukan. Hal ini menunjukkan belum optimalnya pengawasan kualitas Air Minum Isi Ulang (AMIU) oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Pekanbaru.

1.2    Tujuan Penulisan
—-Adapun tujuan penulisan makalah individu ini adalah :
1.2.1 Tujuan Umum :
—-Optimalisasi pengawasan kualitas Air Minum Isi Ulang oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru.

1.2.2 Tujuan Khusus :

  1. Teridentifikasinya masalah dan faktor-faktor penyebab masalah yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mengenai pengawasan kualitas air minum isi ulang di Pekanbaru.
  2. Diperolehnya alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan pelaksanaan pengawasan kualitas air minum isi ulang di Pekanbaru




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Telaah Pustaka
2.1.1 Pengertian air minum

—-Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Sedangkan yang dimaksud dengan air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Dalam peraturan perundang-undangan nomor 16 tahun 2005 tentang pengelolaan air minum, dijelaskan bahwa istilah air bersih tidak digunakan lagi dan digantikan dengan istilah air minum. —-Beberapa jenis air minum, antara lain :5

  1. Air kemasan
  2. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga
  3. Air yang didistribusikan melalui tangki air
  4. Air yang digunakan untuk bahan makanan dan minuman yang disajikan kepada masyarakat, dimana harus memenui syarat kualitas air minum.

2.1.2 Persyaratan kualitas air minum
—-Persyaratan kualitas air minum sebagaimana yang ditetapkan melalui kepmenkes RI No.907/Menkes/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum, meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, radioaktif dan fisik.5

Tabel 2.1 Syarat kualitas air minum secara bakteriologis.5

No

Parameter

Kadar maksimal yang diperbolehkan

(jumlah per 100 ml sample)

1

Air minum

E. Coli atau fecal coli

0

2

Air yang masuk sistem distribusi

E. Coli atau fecal coli

Total bakteri coliform

0

0

3

Air pada sistem distribusi

E. Coli atau fecal coli

Total bakteri coliform

0

0

Tabel 2.2 Syarat kualitas Air Minum Secara Kimiawi.5

No

Parameter

Kadar maksimum yang diperbolehkan (mg/liter)

1

Antimon

0,005

2

Air raksa

0,001

3

Arsen

0,01

4

Barium

0,7

5

Boron

0,3

6

Kadmium

0,003

7

Kromium

0,05

8

Tembaga

2

9

Sianida

0,07

10

Florida

1,5

11

Timbal

0,01

12

Molybdenum

0,07

13

Nikel

0,02

14

Nitrat (sebagai NO3)

50

15

Nitrit (sebagai NO2)

3

16

Selenium

0,01

17

Ammonium

1,5

18

Aluminium

0,2

19

Klorida

250

20

Tembaga

1

21

Kesadahan

500

22

Hidrogen sulfide

0,05

23

Besi

0,3

24

Mangan

0,1

25

PH

6,5-8,5

26

Sodium

200

27

Sulfat

250

28

Total zat padat terlarut

1000

29

Seng

3

Tabel 2.3 Syarat kualitas Air Minum Secara Radioaktif.5

No

Parameter

Kadar maksimum yang diperbolehkan (Bq/liter)

1

Gross alpha activity

0,1

2

Gross beta activity

1

Tabel 2.4 Syarat Kualitas Air Minum Secara Fisik.5

No

Parameter

Satuan

Kadar maksimm yang diperbolehkan

Keterangan

1

Warna

TCU

15

2

Rasa dan bau

3

Temperatur

0C

Suhu udara ± 30C

4

Kekeruhan

NTU

5

—-Escherichia Coli merupakan bakteri yang dapat menghasilkan toksin sehingga menyebabkan diare. Pada saat ini dikenal 3 macam strain E.Coli yang dianggap patogen terhadap manusia, yaitu Enteropathogenic E.Coli (EPEC), Enterotoxigenic E.Coli (ETEC), Enteroinvasive E.Coli (EIEC).6

—-

2.1.3.2 Kimiawi
—-Beberapa zat kimia yang bersifat racun terhadap tubuh manusia adalah logam berat, pestisida, senyawa polutan hidrokarbon, zat-zat radio aktif alami atau buatan dan sebagainya.7,8,9

Nitrat
—-Nitrat yang biasa ditemukan dalam kegiatan pertanian. Pencemaran nitrat disebabkan air limbah pertanian mengandung senyawa nitrat akibat penggunaan pupuk nitrogen (urea). Senyawa nitrat dalam air minum dalam jumlah besar menyebabkan methaemoglobinameia. Penyakit ini adalah kondisi haemoglobin di dalam darah berubah menjadi methaemoglobin, sehingga darah kekurangan oksigen.8

Flourida (F)
—-Flourida adalah senyawa kimia yang alami pada air di berbagai konsentrasi. Pada konsentrasi kecil sekitar 1,5 mg/l akan bermanfaat pada kesehatan gigi. Apabila konsentrasi tinggi (lebih dari 2 mg/l) menyebabkan kerusakan gigi (gigi bercak-bercak). Bila kadarnya lebih besar (3-6 mg/l), menyebabkan kerusakan pada tulang. Dosis flourida di dalam air minum maksimal 0,8 mg/l.8

Air raksa (merkurium, Hg)
—-Unsur berbahaya lainnya adalah adalah logam berat berunsur racun terhadap tubuh. Limbah merkurium akibat industri pernah menimbulkan korban jiwa pada kasus Minamata Jepang, 1950.8,9

Kadmium (Cd)
—-Air minum pun tidak boleh tercemar kadmium (Cd). Air minum biasanya mengandung Cd dengan konsentrasi 1 ug atau kadang-kadang mencapai 5 ug. WHO telah mengeluarkan rekomendasi kadar Cd dalam air minum sebesar 0,01 mg/l sedangkan Peraturan Pemsifat progresif, lambat derintah No 20/1990 kadar maksimum Cd dalam air minum sebesar 0,005 mg/l. Berbagai organ tubuh dapat terpengaruh setelah terpapar jangka lama terhadap Kadmium. Organ yang paling sering terkena adalah ginjal. Secara klasik, gangguan fungsional melibatkan tubulus proksimal yang nantinya akan menimbulkan suatu proteinuria tipe tubular. Proteinuri dan disfungsi ginjal berkaitan dengan kadmium biasanya bersifat progresif, lambat dan mengakibatkan gagal ginjal.8

Selenium
—-Zat racun lainnya dalam Selenium yang biasa ditemukan di daerah seleniferous (tadah hujan). Di daerah semacam itu kandungan selenium dalam air tanah (sumur) ataupun permukaan bisa tinggi. WHO menetapkan kadar selenium pada air minum sebesar 0,01 mg/l sedangkan Peraturan Pemerintah No 20/1990 merekomendasikan kadar selenium yang diperbolehkan 0,01 mg/l.8

Mangan
—-Mangan merupakan logam rapuh berwarna kelabu keputihan. Mangan dapat masuk ke dalam saluran cerna bersama makanan dan air. Mangan yang diabsorbsi didistribusikan terutama ke hati. Zat ini dapat menembus sawar darh otak dan plasenta. Paparan jangka panjang terhadap mangan menyebabkan kerusakan sistem saraf pusat dan paru-paru. Tanda pertama keracunan mangan adalah gangguan kapasitas mental. 7,8

Timbal
—-Timbal merupakn logam berat berwarna kelabu kebiruan. Sekitar 95% timbal dalam darah diikat oleh sel darah merah. Timbal dapat memberikan efek-efek toksik pada saluran cerna, hematopoetik, saraf perifer, sentral dan juga ginjal. Spasme usus halus adalah manifestasi klinis tersering dari keracunan timbal lanjut. Gejala ini biasanya didahului oleh konstipasi berat. Nyeri terlokalisir disekitar atau bawah umbilikus. Tanda paparan timbal ain adalah pigmentasi kelabu pada gusi.9

Arsenik
—-Arsen merupakan logam rapuh berwarna kelabu. Efek akut terhadap kesehatan berupa nyeri kepala, nyeri perut, mencret, muntah sampai syok. Sedangkan efek kronik biasanya terjadi gejala gastrointestinal, neuropati perifer, terutama sensorik, kerusakan hati, perubahan karsinogenik di paru dan kulit.9

Chromium (Cr)
—-Chromium bersifat logam keras, berwarna kelabu. Efek kesehatan yang muncul berupa karsinoma paru, yang diperkirakan karena senyawaan chromium heksavalen dengan strontium, kalsium dan zinc.9

Timbal (Pb)
—-Merupakan logam lunak berwarna kelabu kebiruan, berat, mudah ditempa. Tidak mudah diserap melalui saluran pencernaan, tetapibergantung kadar besi dan kalsium dalam makanan. Ekskresi terutama melalui urine. Efek kesehatan akut tidak spesifik dengan gejala kelesuan, kejang perut, sembelit, nyeri otot dan tidak nafsu makan. Efek kronik berupa neuropati motorik perifer, anemia, kerusakan ginjal dan ensepalopati.9

Zinc (Zn)
—-Zinc bersifat sangat tahan korosi. Efek kesehatan akut berupa demam uap logam. Gejala berupa influenza. Pemulihan terjadi cepat tanpa cacat.7,8,9
—-
2.1.3.3 Radioaktif
—-Efek pada sel yang dilintasi oleh sebuah partikel alpha masih kontroversial. Didua sebagian besar sel yang dilintasi oleh sebuah partikel alpha akan mati akibat deposit energi yang besar dalam inti sel dan kerusakan pada Deoxyribonucleat Acid (DNA). Efek ini dapat bersifat tidak letal dan pada sebagian sel yang terpajan yang dapat bertahan hidup akan mengalami kejadian mutagenik. 10
—-
2.2 Pengawasan Kualitas Air Minum Isi Ulang (AMIU)
—-Tata cara pengawasan kualitas AMIU seperti diatur dalam KepMenKes 907/Menkes/SK/VII/2002, maka perlu dilaksanakan kegiatan secara terus menerus dan beresinambungan agar air yang digunakan oleh penduduk dari penyediaan air minum yang ada terjamin kualitasnya.
—-Kegiatan pengawasan ini dilakukan oleh dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, yang meliputi :
1.     Pengamatan lapangan atau inspeksi sanitasi
—-Pengawasan pada air minum perpipaan maupun air minum dalam kemasan dilakukan pada seluruh unit pengolahan air minum, mulai dari sumber air baku, instalasi pengolahan, proses pengemasan.
2.     Pengambilan sampel
—-Jumlah, frekuensi, dan sampel air minum harus dilaksanakan sesuai kebutuhan dengan ketentuan minimal sebagai berikut :
a) Pemeriksaan kualitas bakteriologis
Jumlah minimal sampel air minum pada penyediaan air minum isi ulang adalah sebagai berikut :

  • Air baku diperiksa minimal satu sampel tiap tiga bulan
  • Air yang siap dimasukkan ke dalam botol isi ulang, minimal satu sampel sebulan sekali
  • Air dalam kemasan minimal dua sampel sebulan sekali

b)     Pemeriksaan kualitas kimiawi
Jumlah minimal sampel air minum adalah sebagai berikut :

  • Air baku diperiksa minimal satu sampel tiap tiga bulan
  • Air yang siap dimasukkan ke dalam botol isi ulang, minimal satu sampel sebulan sekali
  • Air dalam kemasan minimal dua sampel sebulan sekali

c)Pemeriksaan kualitas air minum dilakukan di lapangan, laboratorium dinas Kesehatan/Kota atau laboratorium lainnya yang ditunjuk
d)Hasil pemeriksaan laboratorium harus disampaikan kepada pemakai jasa selambatnya 7 hari untuk pemeriksaan mikrobiologik dan 10 hari untuk pemeriksaan kualitas kimiawi
e)Pengambilan dan pemeriksaan sampel air minum dapat dilakukan sewaktu-waktu bila diperlukan karena adanya dugaan terjadinya gangguan kesehatan atau kejadian luar biasa pada para konsumen.
f)Parameter kualitas air yang diperiksa oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, maka parameter minimal yang harus diperiksa di laboratorium adalah sebagai berikut :
– Parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan :

  • Parameter mikrobiologi ( E. Coli, Total Bakteri Koliform )
  • Kimia an-organik (Arsen, Fluorida, Kromium, Kadmium, Nitrit, Nitrat, Sianida, Selenium)

– Parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan :

  • Parameter fisik ( bau, warna, total zat padat terlarut, kekeruhan, rasa, suhu)
  • Parameter kimiawi ( aluminium, besi, kesadahan, khlorida, mangan, PH, seng, sulfat, tembaga, sisa khlor, amonia )

g)Parameter kualitas air minum lainnya selain dari parameter yang tersebut di atas, dapat dlakukan pemeriksaan bila diperlukan, terutama karena adanya indikasi pencemaran oleh bahan tersebut
h)Pada awal beroperasinya suatu sistem penyediaan air minum, jumlah parameter yang diperiksa, minimal seperti yang tercantum pada point g keputusan ini, untuk pemeriksaan selanjutnya dilakukan sesuai dengan ketentuan pengambilan sampel pada angka 2 Keputusan ini.
(i)Bila parameter persyaratan kualitas air minum ini tidak dapat diperiksa  di laboratorium Kabupaten/Kota, maka pemeriksaannya dapat dirujuk ke laboratorium Propinsi atau laboratorium yang ditunjuk sebagai laboratorium rujukan.
(j)—-Bahan kimia yang diperbolehkan digunakan untuk pengolahan air, termasuk bahan kimia tambahan lainnya hanya boleh digunakan setelah mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan setempat.
(k)—-Hasil pengawasan kualitas air wajib dilaporkan secara berkala oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat kepada Pemerintah Kabupaten/Kota setempat secara rutin, minimal setiap 3 (tiga) bulan sekali, dan apabila terjadi kejadian luar biasa karena terjadinya penurunan kualitas air minum dari penyediaan air minum tersebut,maka pelaporannya wajib langsung dilakukan, dengan tembusan kepada Dinas Kesehatan Propinsi dan Direktur Jenderal.
—-
KepMenKes 907/Menkes/SK/VII/2002 pasal 5 menyebutkan :

  1. Dalam pelaksanaan pengawasan kualitas air minum, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat menentukan parameter kualitas air yang akan diperiksa, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah tangkapan air, instalasi pengolaan air dan jaringan perpipaan
  2. Pemilihan parameter sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dilakukan setelah dilakukan pemeriksaan kondisi awal kualitas air minum

—-Sesuai dengan pasal 5 di atas maka Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menetapkan parameter persyaratan kualitas AMIU sebagai berikut :

  1. Fisika : Parameter yang diperiksa seperti bau, jumlah zat padat terlarut (TDS), kekeruhan, rasa, suhu, warna.
  2. Kimia
  • Kimia Anorganik

—-Parameter yang diperiksa seperti Air raksa, Aluminium, Arsen, Barium, Besi, Florida, Kadmium, Kesadahan, Khlorida, Kromium, Mangan, Natrium, Nitrat, Nitrit, Perak, PH, Selenium, Seng, Sianida, Sulfat, Sulfida, Tembaga, Timbal

  • Kimia Organik

—-Parameter yang diperiksa zat organik sebagai KMnO4
3. Mikrobiologi : Parameter yang diperiksa seperti E. Coli, Koliform tinja dan total Koliform

—-
2.3 Kerangka Teori dalam proyek peningkatan mutu
—-Proyek peningkatan mutu dimulai dengan melakukan observasi,wawancara dan melihat data sekunder. Kemudian ditetapkan menjadi permasalahan yang akan diangkat dan dicari solusinya. Metode yang digunakan dalam proyek peningkatan mutu ini adalah metode Plan, Do, Check, and Action (PDCA cycle) yang didasari atas masalah yang dihadapi (problem-faced) ke arah penyelesaian masalah (problem solving).11
—-Konsep PDCA cycle pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930 yang disebut dengan “Shewhart cycle”. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr. Walter Deming yang kemudian dikenal dengan “ The Deming Wheel”. PDCA cycle berguna sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem.11
—-Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam PDCA cycle, yaitu:
Plan
—-Mengidentifikasi output pelayanan, siapa pengguna jasa pelayanan, dan harapan pengguna jasa pelayanan tersebut melalui analisis suatu proses tertentu.
Mendeskripsikan proses yang dianalisis saat ini
·    Pelajari proses dari awal hingga akhir, identifikasi siapa saja yang terlibat dalam proses tersebut.
·    Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
—-Mengukur dan menganalisis situasi tersebut
·    Menemukan data apa yang dikumpulkan dalam proses tersebut
·    Bagaimana mengolah data tersebut agar membantu memahami kinerja dan dinamika proses
·    Teknik yang digunakan : observasi
·    Mengunakan alat ukur seperti wawancara
—-Fokus pada peluang peningkatan mutu
·    Pilih salah satu permasalahan yang akan diselesaikan
·    Kriteria masalah : menyatakan efek atas ketidakpuasan, adanya gap antara kenyataan dengan yang diinginkan, spesifik, dapat diukur.
—-Mengidentifikasi akar penyebab masalah
·    Menyimpulkan penyebab timbulnya masalah
·    Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
·    Alat yang digunakan : fish bone analysis ishikawa
—-Menemukan dan memilih penyelesaian
·    Mencari berbagai alternatif pemecahan masalah
·    Teknik yang dapat digunakan : brainstorming
—-
Do
1.    Merencanakan suatu proyek uji coba

  • Merencanakan sumber daya manusia, sumber dana, dan sebagainya.
  • Merencanakan rencana kegiatan (plan of action)

2.    Melaksanakan Pilot Project
—-Pilot Project dilaksanakan dalam skala kecil dengan waktu relatif singkat (± 2 minggu)
—-
Check
1.    Evaluasi hasil proyek

  • Bertujuan untuk efektivitas proyek tersebut
  • Membandingkan target dengan hasil pencapaian proyek (data yang dikumpulkan dan teknik pengumpulan data harus sama)
  • Target yang ingin dicapai 80%
  • Teknik yang digunakan: observasi dan survei
  • Alat yang digunakan: kamera dan kuisioner

2.    Membuat kesimpulan proyek

  • Hasil menjanjikan namun perlu perubahan
  • Jika proyek gagal, cari penyelesaian lain
  • Jika proyek berhasil, selanjutnya dibuat rutinitas

—-

Action
1.    Standarisasi perubahan

  • Pertimbangkan area mana saja yang mungkin diterapkan
  • Revisi proses yang sudah diperbaiki
  • Modifikasi standar, prosedur dan kebijakan yang ada
  • Komunikasikan kepada seluruh staf, pelanggan dan suplier atas perubahan yang dilakukan.
  • Lakukan pelatihan bila perlu
  • Mengembangkan rencana yang jelas
  • Dokumentasikan proyek

2.    Memonitor perubahan

  • Melakukan pengukuran dan pengendalian proses secara teratur
  • Alat yang digunakan : kamera

—-

Gambar 2.1. PDCA cycle11

—-
—-
—-
—-
—-
—-
BAB III
Pengawasan kualitas Air Minum Isi Ulang di Pekanbaru
Oleh Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru
Tahun 2008

—-

3.1 Plan
3.1.1 Mendeskripsikan keadaan
—-Pengawasan kualitas AMIU di Pekanbaru menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Kota (DKK) Pekanbaru. Pengawasan ini berupa pemeriksaan kualitas AMIU secara berkala, sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan masing-masing DKK. Tenaga yang terlibat dalam pengawasan ini terdiri dari Kepala Seksi Pengawasan Kualitas Air Minum, tenaga analis laboratorium berjumlah tiga orang dan untuk pengawasan lapangan secara berkala di bebankan kepada petugas seksi Kesehatan Lingkungan yang berada di Puskesmas-puskesmas. Jumlah depot AMIU yang berada di bawah pengawasan DKK Pekanbaru berjumlah 178 depot, yang kesemuanya dikategorikan sebagai depot air minum yang sehat. Berdasarkan hasil observasi beberapa depot, wawancara dengan kepala seksi pengawasan kualitas AMIU dan dari data sekunder berupa hasil pemeriksaan laboratorium diketahui bahwa bahwa pemeriksaan kualitas AMIU tidak dilakukan secara berkala dan banyak parameter pemeriksaan kualitas air minum tidak dilakukan, selain itu, pengawasan dari puskesmas juga tidak optimal. Hal ini menunjukkan belum optimalnya pengawasan AMIU oleh DKK Pekanbaru sehingga kualitas AMIU yang ada masih harus dipertanyakan.
—-
3.1.2 Identifikasi Masalah
—-Proses identifikasi masalah didapatkan melalui observasi, wawancara dengan pengelola usaha air minum isi ulang, data sekunder

Tabel 3.1 Identifikasi Masalah

—-

No

Aspek yang dinilai

Identifikasi Masalah

Metode Identifikasi

Masalah

1

Sistem teknis

Pengawasan kualitas AMIU belum optimal

Observasi

Wawancara

Data sekunder

2

Sistem produksi

Kualitas AMIU masih rendah

Data sekunder

—-
3.1.3 Penentuan Prioritas Masalah
—-Berdasarkan permasalahan yang ditemukan ditetapkan satu prioritas masalah dengan metode skoring yang menggunakan pertimbangan 4 aspek yaitu:
Urgensi/kepentingan

  • nilai 1 tidak penting
  • nilai 2 penting
  • nilai 3 sangat penting

Solusi

  • nilai 1 tidak mudah
  • nilai 2 mudah
  • nilai 3 sangat mudah

Kemampuan merubah

  • nilai 1 tidak mudah
  • nilai 2 mudah
  • nilai 3 sangat mudah

Biaya

  • nilai 1 tinggi
  • nilai 2 sedang
  • nilai 3 rendah

—-Kemudian masalah tersebut dirangking berdasarkan skor tertinggi dan yang mempunyai angka tertinggi akan menjadi prioritas utama dalam kegiatan peningkatan mutu ini.

Tabel 3.2 Penentuan Prioritas Masalah

—-

No

Aspek Masalah

Urgensi

Solusi

Kemampun anggota merubah

Biaya

Total

Rangking

1

Pengawasan Kualitas AMIU

3

2

2

2

24

I

2

Kualitas AMIU masih rendah

3

2

1

2

12

II

Berdasarkan tabel prioritas masalah di atas, didapatkan bahwa pengawasan kualitas AMIU oleh DKK Pekanbaru menempati rangking pertama, dengan skor tertinggi yakni 24
—-
3.1.4 Analisis Penyebab Masalah
—-Berdasarkan penilaian prioritas masalah didapatkan prioritas utama pada kegiatan peningkatan mutu ini, yaitu optimalisasi pengawasan kualitas AMIU oleh DKK Pekanbaru. Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab dari masalah tersebut antara lain terlihat dari berbagai aspek di bawah ini :
—-
Tabel 3.3 Analisis Penyebab Masalah

No

Masalah

Penyebab Masalah

Evidence based

1

Kurang optimalnya pelaksanaan pengawasan kualitas AMIU oleh DKK Pekanbaru

Man

Tenaga pengawas khusus tidak ada

Wawancara :

Tenaga Pengawas AMIU di lapangan diserahkan kepada bagian Kesling Puskesmas

Material

– Alat dan reagen untuk pemeriksaan E.Coli belum ada

– Alat dan reagen belum semuanya tersedia untuk pemeriksaan kimiawi

Wawancara & Observasi:

Parameter E.Coli dan kimiawi belum semuanya dapat diperiksa karena alat dan reagen tidak tersedia

Method

– Pemeriksaan air baku tidak berkala

– Pemeriksaan sampel air 1 tahun sekali

– Belum optimalnya pelaksanaan kebijakan kepada pengelola depot

-Belum optimalnya pengawasan AMIU di Puskesmas

Wawancara :

Pemeriksaan air baku hanya 1 kali/th yang seharusnya 4x/th.

Wawancara :

Pemeriksaan sampel air dilakukan hanya 1 x/th seharusnya 1x/bln

Wawancara:

Belum terlaksananya sanki yang telah ditetapkan oleh DKK kepada pengelola depot, karena persoalan uang administrasi

Data sekunder :

Adanya surat perjanjian/kebijakan yang ditetapkan oleh DKK kepada pengelola depot sebelum izin usaha diberikan.

Wawancara :

Tenaga pelaksana bag. Kesling di Puskesmas sebagai pelaksana dasar masih kurang sehingga pengawasan di tingkat lapangan belum optimal

Money

– Pemeriksaan sampel air cukup mahal

Wawancara :

Pengelola depot mengeluhkan biaya pemeriksaan sampel air yang mahal (Rp 650.000 untuk pemeriksaan kimiawi dan Rp 60.000 untuk mikrobiologi)

—-—-
1.1.1.4    Alternatif Pemecahan Masalah
—-Setelah dilakukan analisis masalah, maka langkah selanjutnya adalah membuat solusi terbaik. Solusi yang diberikan diharapkan dapat mengoptimalkan cakupan target akseptor MKJP. Alternatif pemecahan masalah dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
—-

No

Masalah

Alternatif Pemecahan Masalah

Tujuan

Sasaran

Tempat

Pelaksanaan Kegiatan

Waktu

Kriteria keberhasilan

1.

Tidak ada tenaga khusus dalam pengawasan langsung

-Penyediaan tenaga khusus terampil dari DKK Pekanbaru untuk pengawasan AMIU langsung di lapangan, sehingga tenaga tsb memahami hal-hal yang seharusnya selalu diawasi dari pengelolaan AMIU.

-Mengadakan pelatihan kepada tenaga yang akan melakukan pengawasan AMIU langsung

Tersedianya tenaga khusus terampil dalam pengawasan langsung AMIU

Kepala DKK Pekanbaru

DKK Pekanbaru

Seksi Pengawasan Kualitas Air Minum DKK Pekanbaru

Adanya tenaga pengawas khusus terampil dalam pengawasan kualitas AMIU langsung di lapangan

2

Belum optimalnya pelaksanaan pengawasan AMIU di Puskesmas

Mengoptimalkan pengawasan dari tingkat Puskesmas dengan menempatkan tenaga khusus terampil untuk pengawasan AMIU

Kepala DKK Pekanbaru

DKK Pekanbaru

Sei Kesling di Puskesmas

Terlaksananya pengawasan secara berkala, baik dari proses pengolahan, pengambilan sampel, dan pemeriksaaan karyawan

3

Belum lengkap Alat dan reagen untuk pemeriksaan E.Coli

Penyediaan alat dan reagen untuk pemeriksaan kimiawi lengkap sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan DKK Pekanbaru. Seperti lactose broth untuk pemeriksaan E.Coli. Penyediaan alat DR/890 data logging colometri untuk pemeriksaan kimiawi

Semua parameter untuk uji kualitas AMIU dapat dilaksanakan

Kepala DKK pekanbaru

DKK Pekanbaru

Staf laboratorium

Tersedianya fasilitas untuk pemeriksaaan kualitas air baik secara kimiawi maupun bakteriologis

4

Belum lengkap Alat dan reagen untuk pemeriksaan kimiawi

4

Pemeriksaan air baku tidak berkala

Pemeriksaan kualitas AMIU harus dilakukan secara berkala sesuai KepMenKes No 907/Menkes/SK/VII/2002

Kualitas air dapat dikontrol secara berkala

Kepala Seksi Pengawasan AMIU

DKK Pekanbaru

Seksi Kesling Puskesmas

Kualitas air minum memenuhi persyaratan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002

5

Pemeriksaan sampel air 1 tahun sekali

6

Belum optimalnya pelaksanaan kebijakan kepada pengelola depot

Mengoptimalkan pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan oleh DKK Pekanbaru

Kepala Seksi Pengawasan AMIU

DKK Pekanbaru

Kepala Seksi Pengawasan AMIU

Pengelola depot mematuhi waktu pelaksanaan pemeriksaan kualitas AMIU

7

Pemeriksaan sampel air cukup mahal

Penyediaan dana khusus untuk subsidi penyediaan reagen sehingga pembiayaan tidak sepenuhnya ditanggung pengelola

Walikota Pekanbaru

Kantor Walikota

Kepala Seksi Pengawasan AMIU

Biaya pemeriksaan sampel air terjangkau oleh pengelola depot

—-

—-

Daftar Pustaka

—-

  1. _____________http//www.depperin.go.id/IND/Publikasi/Matriks/Berita/berita.aspkd=1136
  2. _____________http_kembank.multiply.com_journal_item_1_Air_Minum
  3. Zazili A. Airku Sayang Airku Malang. Majalah Bulanan Air Minum. Edisi   144. Tirta Darma. September 2007.
  4. ____________http//www.bppt.go.id/index.phpoption=com/content&task=view&id=1644&Itemid=30
  5. ____________Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 Tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air
  6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak jilid I. Jakarta ; FKUI. 1998
  7. World Health Organization. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja. Editor : Caroline Wijaya. Jakarta ; EGC. 1995
  8. Harrington, Gill. Buku Saku Kesehatan Kerja. Edisi 3. Penerbit EGC. Jakarta ; 2005
  9. ___________http//www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1997/02/14/0026
  10. Alatas Z. Efek Kesehatan Pajanan Radiasi Dosis Rendah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keselamatan Radiasi dan Biometika Nuklir Badan Tenaga Nuklir Naional. Jakarta. http//www.kalbe.co.id
  11. Webmaster. The PDA cycle. Disitasi dari http//dotmouth.edu. Last Update Agustus 2007

4 responses to “PENGAWASAN KUALITAS AIR MINUM ISI ULANG OLEH DINKES KOTA PEKANBARU TAHUN 2008

  1. kalo butuh uji kualitas air hubungi saya ya, biochemindo@yahoo.co.id

  2. pinjam di copy…

  3. trim’s ya mas atas infonya :lol:

  4. Hijrah P. Putra

    Ini ada info mengenai Pelatihan Metode Analisis Air di Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
    Info lebih lengkap dapat dilihat di http://www.cets-uii.org

    Mudah2an info ini bermanfaat.
    Terima Kasih

    Ya2N^_^ :
    @Hijrah P. Putra
    Terimakasih atas infonya mas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s