GANGGUAN KEPRIBADIAN


I. GANGGUAN KEPRIBADIAN OBSESIF-KOMPULSIF

—–Gangguan kepribadian obsesif kompulsif ditandai oleh penyempitan emosional, ketertiban kekerasan hati, sikap keras kepala dan kebimbangan. Gambaran penting dari gangguan ini adalah pola perfeksionisme dan infleksibilitas yang pervasif (Kaplan, 1997).

—–Pfohl dan Blum dalam Mahendrato menjelaskan bahwa orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian obsesif kompulsif ditandai oleh adanya kemandekan/fiksasi untuk menyelesaikan segala sesuatunya “dengan benar”. Meskipun banyak orang mungkin iri terhadap ketekunan dan dedikasinya, tetapi terjebak dengan detail ini justru membuat mereka tidak dapat menyelesaikan banyak hal. Seperti banyak ciri gangguan kepribadian lainnya, orang dengan gangguan kepribadian ini sangat jarang pergi ke bioskop atau menghadiri pesta atau melakukan hal hal yang tidak berhubungan dengan psikologi. Karena rigiditas umumnya, orang orang ini cenderung memiliki hubungan interpersonal yang buruk (Mahendrato, 2008)

—-Nugent dalam Mahendrato mengungkapkan bahwa kombinasi tertentu gangguan ini dengan pengalaman yang tidak menguntungkan di masa kanak kanak dapat memunculkan pola perilaku yang mengganggu. Disalah satu ujung spektrum perilaku, sering dijumpai gangguan kepribadian obsesif kompulsif diantara anak anak berbakat yang perfeksionismenya bisa bersifat melemahkan (Mahendrato, 2008).

—–

Epdemiologi

—–Prevalensi gangguan kepribadian obsesif kompulsif pada populasi umum sekitar  1% (Bienenfeld, 2008).  Keadaan ini lebih sering pada laki-laki dibandingkan perempuan dan didiagnosis paling sering pada anak yang tertua. Pasien sering kali memiliki latar belakang yang ditandai oleh disiplin yang keras (Kaplan, 1997).

—–

Diagnosis

—–Dalam wawancara, pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif mungkin memiliki kelakuan yang kaku, resmi dan dingin. Afek mereka tidak tumpul atau datar tetapi dapat digambarkan sebagai terkontriksi. Mereka tidak mempunyai spontanitas. Mood mereka biasanya serius. Jawaban mereka terhadap pertanyaan biasanya terperinci. Mekanisme pertahanan yang biasa digunakan adalah rasionalisasi, isolasi dan intelektualisasi, pembentukan reaksi dan meruntuhkan (undoing) (Kaplan, 1997).

—–Kode pada PPDGJ termasuk F 60.5 yang ditandai oleh:

  1. Perasaan ragu dan hati-hati yang berlebihan
  2. Terpaku pada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi atau jadwal
  3. Perfeksionisme yang menghambat tugas
  4. ketelitian yang berlebihan, terlalu hati-hati dan kecenderungan yang tidak semestinya untuk menciptakan kesenangan dan hubungan interpersonal
  5. Keterpakuan dan keterikatan yang berlebihan pada kebiasaan sosial
  6. Kaku dan keras kepala
  7. Pemaksaan secara tidak masuk akal agar orang lain melakukan menurut carannya atau keengganan yang tak masuk akal untuk mengizinkan orang lain melakukan sesuatu
  8. Mencampuradukkan fikiran atau dorongan yang bersifat memaksa atau yang tidak disukai.

—–

Gambaran Klinis

  1. Memiliki keasyikan dengan aturan,peraturan,kebersihan,perincian, dan pencapaian kesempurnaan
  2. Resmi, serius, tidak punya rasa humor dan memiliki sedikit teman.
  3. Memaksakan aturan secara kaku dan tidak mampu untuk mentoleransi apa yang dirasakannya sebagai pelanggaran.
  4. Tidak memiliki fleksibilitas dan intoleran.
  5. Keterampilan interpersonal pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah terbatas.
  6. Mereka mengasingkan orang lain, tidak mampu untuk berkompromi dan memaksakan supaya orang lain tunduk pada kebutuhan mereka.
  7. Takut melakukan kesalahan, mengalami kebimbangan dan berfikir lama dalam mengambil keputusan (Kaplan, 1997).

—–

Diagnosis banding

—–Bila ditemukan obesesif kompulsif yang rekuren, gangguan obsesif konpulsif harus ditulis dalam aksis I. Diagnosis gangguan kepribadian diberikan pada pasien dengan gangguan bermakna dalam efektivitas pekerjaan dan sosialnya. Pada beberapa kasus, gangguan delusional terjadi bersama-sama dengan gangguan kepribadian dan harus dicatat (Kaplan, 1997).

—–

Perjalanan penyakit dan prognosis.

—–Perjalanan gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah bervariasi dan tidak dapat diramalkan. Beberapa remaja dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif berkembang menjadi orang dewasa yang hangat, terbuka dan ramah. Orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif dapat bekerja dengan baik dalam posisi yang membutuhkan pekerjaan metodologis, deduktif atatu terperinci tetapi mereka rentan terhadap perubahan yang tidak diharapkan.

—–

Terapi

1. Psikoterapi

Pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif sering kali tahu mereka sakit, dan mencari pengobatan atas kemauan sendiri. Cara yang dipakai :

  • Asosiasi bebas dan terapi yang tidak mengarahkan adalah sangat dihargai oleh pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif  yang bersosialisasi dan berlatih berlebihan
  • Terapi Kelompok dan terapi prilaku

2. Farmakoterapi

—–Clonazepam (klonopin) digunakan untuk menurunkan gejala pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif  parah.Clomipramin dan obat serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna bila tanda dan gejala obsesif kompulsif timbul  (Kaplan, 1997).

—–

—–

II. GANGGUAN KEPRIBADIAN YANG TIDAK DITENTUKAN

—–Gangguan kepribadian pasif agresif dan gangguan kepribadian depresif dicontohkan sebagai gangguan kepribadian yang tidak ditentukan. Oposisionalisme,sadisme, masokisme dan pasien yang memiliki  ciri-ciri lebih dari satu gangguan kepribadian tetapi tidak memnuhi kriteria lengkap untuk salah satu gangguan kepribadian dapat diklasifikasikan disini (Kaplan, 1997).

—–

A. Gangguan kepribadian pasif agresif

—–Orang dengan gangguan kepribadian pasif agresif ditandai dengan obtruksionisme (senang menghalang-halangi), menunda-nunda, sikap keras kepala dan tidak efisien. Prilaku tersebut adalah mendasari, yang diekspresikan secara pasif (Kaplan, 1997).

—–

Epidemiologi.

—–Tidak ada data yang tersedia tentang epidemiologi gangguan, termasuk rasio jenis kelamin, pola familial dan prevalensi (Kaplan, 1997).

—–

Diagnosis

—–Pada PPDGJ III termasuk F 60.8 (gangguan kepribadian khas lainnya).

—–

Gambaran klinis

—–Karakteristik pasien gangguan kepribadian pasif agresif adalah:

  1. Menunda-nunda, tidak menerima permintaan untuk kinerja yang optimal, meminta maaf untuk keterlambatan dan mencari kesalahan pada diri orang lain pada siapa mereka tergantung, mereka menolak untuk melepaskan diri mereka sendiri dari ketergantungan.
  2. Tidak memeiliki ketegasan dan tidak lansung tentang kebutuhan dan harapan mereka.
  3. Tidak dapat menjawab pertanyaan yang diperlukan tentang apa yang diharapakan oleh mereka dan mungkinmenjadi cemas bila dipaksa untuk melakukannya.
  4. Berusaha untuk memanipulasi dirinya sendiri kedalam posisi tergantung, tetapi prilaku mereka yang pasif dan merendahkan diri sering kali dialami orang lain sebagai hukuman atau manipulasi (Kaplan, 1997).

—–

Diagnosis Banding

—–Gangguan kepribadian Ambang dan histrionik (Kaplan, 1997).

Terapi

1. Psikoterapi

Nasehat dan bimbingan prilaku sehari-hari dapat mengurangi akibatnya pada diri sendiri dan lingkungannya (Maramis, 2005). Pada pasien dengan gangguan kepribadian pasif agresif yang mendapatkan psikoterapi suportif memiliki hasil yang baik. Tetapi psikoterapi untuk pasien dengan gangguan kepribadian pasif agresif memiliki banyak kekurangan diantaranya dalam memenuhi kebutuhan paisien sering kali mendukung patologi mereka,  tetapi menolak permintaan mereka sama dengan menolak mereka. Klinisi harus mengobati kecenderungan bunuh diri terhadap tiap ekspresi kemarahan yang tersembunyi dan bukan sebagai orang yang yang akan mengobati kehilangan objek pada gangguan depresi berat (Kaplan, 1997).

2. Farmakoterapi

Antidepresan diresepkan bila ada indikasi bunuh diri. Beberapa pasien respon terhadap benzodiazepin dan psikostimulan (Kaplan, 1997).

—–

B. Gangguan kepribadian depresif

—–Pada orang gangguan kepribadian depresif, mereka pesimistik, anhedonik, terikat pada kewajiban, meragukan diri sendiri  dan tidak gembira secara kronis (Kaplan, 1997).

—–—–

Epidemiologi

—–Berdasarkan prevalensi gangguan depresif pada populasi keseluruhan, gangguan kepribadian depresif tampaknya sering, terjadi sama banyak pada laki-laki dan perempuan dan terjadi pada keluarga dimana gangguan depresif ditemukan (Kaplan, 1997).

—–

Etiologi

—–Teori psikologis menyatakan adanya kehilangan awal kehidupan, pengasuhan orang tua yang buruk, super ego yang menghukum, dan perasaan bersalah yang ekstrim (Kaplan, 1997).

—–

Gambaran Klinis

Deskripsi  gangguan kepribadian depresif oleh H.Akiskal menggambarkan kelompok sifat depresif adalah :

  1. Tenang, introvert, pasif tidak sombong.
  2. Bermuram durja, pesimistik, serius, dan tidak dapat merasakan kegembiraan.
  3. Mengkritik diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan menghina diri sendiri.
  4. Bersifat ragu-ragu, kritik orang lain , sukar untuk memaafkan.
  5. Berhati-hati, bertanggung jawab dan disiplin diri
  6. Memikirkan hal sedih dan pasien merasa cemas
  7. Asyik dengan peristiwa negatif, perasaan tidak berdaya dan kelemahan pribadi.

—–

Diagnosis Banding

  • Gangguan distimik
  • Gangguan kepribadian menghindar (Kaplan, 1997).

—–

Perjalanan penyakit dan prognosis

—–Orang dengan gangguan  kepribadian depresif  mungkin berada dalam resiko yang tinggi untuk mengalami gangguan distimik dan gangguan depresif berat (Kaplan, 1997).

—–

Terapi

1. Psikoterapi

Merupakan pengobatan terpilih untuk gangguan kepribadian depresif. Pasien berespon terhadap psikoterapi berorientasi tilikan dan karena tes realita pasien adalah baik, mereka mampu menggali tilikan kedalam psikodinamika penyakitnya dan memahami efeknya pada hubungan interpersonal mereka. Terapi kemungkianan bersifat lama (Kaplan, 1997).

Terapi kognitif membantu pasien mengerti manifestasi kognitif dari perasaan rendah diri dan pesimisme mereka. Jenis psikoterapi lain yang berguna adalah psikoterapi kelompok dan terapi interpersonal (Kaplan, 1997).

2. Psikofarmaka.

  • Antidepresan  khususnya obat serotonik tertentu seperti sertralin (Zoloft) 50 mg sehari
  • Psikostimulan seperti amfetamin 5-10 mg/hari (Kaplan, 1997).

—–

C. Gangguan kepribadian Sadomasokistik

—–Beberapa jenis kepribadian ditandai oleh elemen sadisme atau masokisme atau kombinasi keduanya. Sadisme adalah keinginan untuk menyebabkan rasa sakit pada orang lain baik secara penyiksaan seksual atau fisik atau penyiksaan psikologi pada umumnya. Masokisme adalah pencapaian kepuasan seksual dengan menyiksa diri sendiri. Pada umumnya, yang dinamakan penderita masokisme moral mencari penghinaan dan kegagalan, bukannya sakit fisik (Kaplan, 1997).

—–Pengamatan klinis menyatakan bahwa elemen sadistik dan masokistik biasanya ditemukan pada orang yang sama. Terapi dengan psikoterapi yang berorientasi tilikan termasuk psikoanalisis , telah efektif pada beberapa kasus. Sebagai hasil terapi pasien menyadari bahwa kebutuhan menghukum diri sendiri adalah sekunder karena perasaan bersalah bawah sadar yang berlebihan dan juga mengenali impuls agresif mereka yang terepresi, yang berasal dari masa anak-anak awal (Kaplan, 1997).

—–Pada PPDGJ III termasuk F 65.5 yaitu suatu preferensi terhadap aktivitas seksual yang meliputi pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan. Jika individu lebih suka menjadi resepien dari peransangan demikian, maka disebut masokisme, jika sebagai pelaku disebut sadisme, baik sadisme maupun masokisme.

Stimulasi sadomasokistik berderajat ringan biasanya digunakan untuk meningkatkanaktivitas seksual yang sebetulnya normal. Kategori ini hanya digunakan apabila aktivitas sadomakistik merupakan sumber ransangan yang terpenting untuk pemuasan seksual

—–Sadisme seksual kadang-kadang sukar dibedakan dari kekejaman pada hubungan atau kemarahan yang tidak berhubungan dengan erotisisme. Oleh karena kekerasan diperlukan untuk membangkitkan birahi, maka diagnosis dapat ditentukan dengan jelas.

—–

D. Gangguan kepribadian Sadistik

—–Orang dengan kepribadian sadistik menunjukkan pola kekejaman yang perpasif, merendahkan dan prilaku agresif, yang dimulai sejak masa anak-anak awal dan diarahkan kepada orang lain. Kekejaman atau kekerasan fisik digunakan untuk menyebabkan sakit pada orang lain dan bukan untuk mencapai tujuan lain. Orang dengan gangguan ini kemungkinan menghina atau merendahkan orang dihadapan orang lain dan biasanya telah mengancam atau menghukumorang lain dengan kasar yang tidak lazimnya, terutama anak-anak (Kaplan, 1997).

—–Pada PPDGJ III termasuk F 65.5 yaitu suatu preferensi terhadap aktivitas seksual yang meliputi pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan. Jika individu lebih suka menjadi resepien dari peransangan demikian, maka disebut masokisme, jika sebagai pelaku disebut sadisme, baik sadisme maupun masokisme.

—–Stimulasi sadomasokistik berderajat ringan biasanya digunakan untuk meningkatkanaktivitas seksual yang sebetulnya normal. Kategori ini hanya digunakan apabila aktivitas sadomakistik merupakan sumber ransangan yang terpenting untuk pemuasan seksual

—–

E. Perubahan Kepribadian karena kondisi medis umum

—–Perubahan kepribadian karena kondisi medis umum ditandai perubahan yang jelas pada gaya dan sifat kepribadian dan tingkat fungsi sebelumnya. Pasien harus menunjukkan bukti-bukti faktor  organik penyebab sebelum onset perubahn kepribadian (Kaplan, 1997).

—–

Etiologi

—–Kerusakan struktural pada otak biasanya penyebab perubahan kepribadian Trauma kepala merupakan penyebab yang paling sering. Neoplasma serebral dan kerusakan pembuluh darah, khususnya lobus temporalis dan frontalis, juga merupakan penyebab yang sering. Kondisi ini tersering disertai dengan perubahan kepribadian (Kaplan, 1997).

—–

Diagnosis dan gambaran klinis

—–Ditemukan pperubahan kepribadian dari pola prilaku sebelumnya atau suatu eksaserbasi karakteristik kepribadian sebelumnya. Gangguan pengendalian ekspresi emosi dan impuls adalah gambaran yang utama. Secara karakteristik emosi labil dan dangkal walaupun euforia  dan apati menonjol, walaupun euforia dan apati mungkin menonjol (Kaplan, 1997).

—–Hal yang berhubungan dengan cedera laobus frontali (sindroma lobus frontalis) adalah ketidakacuhan dan apati yang menonjol, yang ditandai oleh tidak adanya perhatian terhadap peristiwa di lingkungan dekatnya. Ekspresi impuls mungkin dimanifestasikan dengan gurauan yang tidak sesuai, cara yang kasar, pendekatan seksual yang tidak pada tempatnya dan tindakan anti sosial yang menyebabkan konflik dengan hukum. Orang dengan epilepsi lobus temporalis secara karakteristik menunjukkan tidak memiliki rasa humor, hipergrafia, hiperreligius,dan agresivitas yang nyata selama kejang (Kaplan, 1997).

—–Orang dengan perubahan kepribadian karena kondisi medis umum memiliki sensorium yang jernih. Gangguan ringan pada fungsi kognitif tidak menyebabkan perburukan intelektual. Diagnosis harus di curigai pada pasien yang menunjukkan perubahan yang nyata dalam prilaku atau kepribadian termasuk labilitas emosional dan gangguan kepribadian impuls, yang tidak memiliki riwayat mental dan yang perubahan kepribadiannya terjadi secara tiba-tiba atau selama periode yang relatif singkat (Kaplan, 1997).

—–

Diagnosis banding

—–Demensia adalah melibatkan pemburukan global pada intelektual dan kapasitas prilaku. Pada pemburukan mulai mencakup daya ingat yang penting dan defisit kognitif, diagnosis diubah dari gangguan kepribadian karena kondisi medis umum ke demensia (Kaplan, 1997).

—–

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

—–Perjalanan penyakit dan prognosis perubahna kepribadian karena kondisi medis umum tergantung pada penyebabnya. Jika gangguan terjadi akibat gangguan struktural otak, gangguan cenderung menetap. Gangguan mungkin terjadi setelah suatu peride koma dan derilium pada kasus trauma kepala atau gangguan pembuluh darah.  Perubahan kepribadian dapat berkembang menjadi demensia pada kasus tumor otak, skelrosis multipel dan penyakit hutington. Peruhan karena intoksikasi kronik kronik, penyaki medis atau terapi obat (seperti levodopa pada kasus Parkinson) (Kaplan, 1997).

—–

Terapi

—–Penatalaksanaan gangguan perubahan kepribadian melibatkan terapi kondisis organik dasar jiak kondisi itu dapat diobati. Terapi psikofarmakologis untuk gejala spesifik mungkin di indikasikan pada beberapa kasus seperti Imipramin dan fluxetin untuk depresi. Pasien dengan gangguan kognitif yang parah atau pengendalian prilaku yang melemah mungkin memerlukan konseling untuk membantu menghindari kesulitan dalam pekerjaan atau mencegah keadaan memalukan sosial. Intinya adalah dukungan keluarga pasien (Kaplan, 1997).

—–

E. Perubahan Kepribadian selamanya setelah pengalaman menakutkan dan setelah penyakit Psikiatrik.

Perubahan kepribadian selamanya setelah pengalaman menakutkan

Menurut PPDGJ III adalah perubahan kepribadian harus berlansung lama dan muncul sebagai gambaran yang tidak fleksibel maladaptif yang menjurus kepada kegagalan dalam fungsi interpersonal, sosial dan pekerjaan. Biasanya perubahan kepribadian harus dipastikan berdasarkan keterangan yang dapat diandalkan. Untuk menegakkan diagnosis adalah esensial untuk memastikan gambaran yang tidak tampak sebelumnya, seperti:

-          sikap bermusuhan dan tidak percaya menghadapi dunia

-          Penarikan diri dari masyarakat

-          Perasaan kosong dan putus asa

-          Perasaan terpojok yang kronis seperti terancam terus menerus

-          Keterasingan

Perubahan kepribadian ini harus sudah ada selama minimal 2 tahun dan harus tidak disebabkan oleh gangguan kepribadian yang sebelumnya ada atau karena suatu gangguan jiwa selain gangguan stres pasca trauma.

Perubahan Kepribadian Selamanya Setelah Penyakit psikiatrik

Menurut PPDGJ III adalah perubahan kepribadian yang berlansung lama dan tampil sebagai pola yang tidak fleksibel dan maladaptif dalam fungsi dan pengalamannya, yang mengarah kepada problem yang berkepanjangan dalam fungsi interpersonel, sosial atau pekerjaan dan penderitaan subjektif. Tidak boleh ada tanda bahwa sebelumnya sudah ada gangguan kepribadian yang menjelaskan terjadinya perubahan kepribadian itu dan diagnosis tidak boleh berdasarkan suatu gejala residual gangguan jiwa sebelumnya.Perubahan kepribadian berkembang mengikuti penyembuhan klinis suatu gangguan jiwa yang harus telah dialami sebagai sangat menekan secara emosional dan mengahancurkan citra diri  pasien. Sikap atau reaksi orang lain terhadap pasien sesudah penyakit itu adalah penting dalam menentukan dan memperkuat persepsi pasien terhadap derajat stres. Tipe perubahan kepribadian ini tidak dapat dimengerti sepenuhnya tanpa mempertimbangkan pengalaman emosional yang subjektif dan kepribadian sebelumnya, penyesuaian dirinya dan kerentanan khasnya.

Tanda diagnostik harus mencakup gambaran klinis sebagai berikut:

  1. sikap ketergantungan dan sikap menuntut dari orang lain yang berlebihan
  2. tuduhan bahwa dirinya berubah atau cacat oleh karena penyakit, menjurus ketidakmampuan membentuk dan memperthakan hubungan pribadi yang dekat dan terpercaya serta isolasi sosial.
  3. Pasif, minat berkurang dan menurunya keterlibatan dalam aktivitas rekreasi.
  4. Selalu menegeluh sakit, yang mungkin disertai dengan keluhan hipokondrik dan prilaku sakit
  5. Disforia atau suasana peraan yang labil, yang tidak disebabkan oleh adanya gangguan jiwa saat ini atau gangguan jiwa sebelumnya dengan gejala afektif residual
  6. Hendaya yang bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan dibandingkan dengan keadaan sebelum sakit.
  7. Manifestasi  tersebut diatas harus sudah ada selama kurun waktu 2 tahun atau lebih Perubahan bukan terjadi karena kerusakan otak berat. Adanya diagnosis skizofrenia sebelumnya tidak meningkirkan kemungkinan diagnosis ini.

Editor : Yayan A.I

About these ads

One response to “GANGGUAN KEPRIBADIAN

  1. Waah…!
    tulisannya bagus,bg…
    izin copy buat tugas tutorial ya,bg…
    Senangnya bisa menemukan artikel bagus mahasiswa FK UNRI…
    biasanya kan dari FK lain…

    Tetap semangat ya nulis di blog abg…
    Jadi enak myari bahan kalau ada tugas…he
    ;-)

    Jaya FK UNRI…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s